Dulu saat masih bocah 5-6 tahun, saya mulai sering memperhatikan keadaan sekitar dan mengingat beberapa diantaranya sampai sekarang. Jangan tanya memori di usia sebelum itu. Rasanya tak ada yang masih berbekas di kepala saya.
Salah satu yang saya ingat saat itu adalah ayah saya yang sering mengganti channel tv ke siaran sepak bola. Malam-malam biasanya. Sekitar pukul delapan dan sembilan. Menjelang waktunya saya tidur. Itulah awal mula perkenalan saya dengan sepak bola. Liga Serie A-nya negeri pizza menjadi kegemaran ayah saya saat itu. Saya sendiri tidak belum suka. Apa menariknya sepak bola dalam layar 14 inch dibanding bermain di luar dan menemukan hal-hal baru dengan berpetualang?
Waktu pun beranjak pada gelaran Piala Dunia 1998. Di sinilah titik saya mulai suka sepak bola. Favorit saya Belanda dan Brazil. Meniru ayah saya. Memang begitu polah anak kecil. Senang meniru orang-orang yang ada di sekitarnya. Sampai sekarang pun saya masih suka kedua timnas itu. Belanda yang selalu offensive dengan total football-nya. Brazil yang indah dengan jogo bonito-nya. Paduan keduanya ada pada FC Barcelona, klub favorit saya.
Dada saya sesak ketika Brazil dijungkalkan Prancis dengan skor 3-0 di final. Zidane menjadi biang kerok dengan dua golnya. Itulah sebabnya saya tak pernah suka Zidane. Apalagi saat dia pindah ke Real Madrid, musuh abadi Barca. Lengkap sudah alasan bagi saya untuk tak menyukainya.
Piala Eropa 2000 bergulir di dua negara: Belanda dan Belgia. Inilah saat yang tepat bagi Belanda untuk juara. Hati saya bersorak. Tak sabar menunggu perhelatan dimulai. Rubrik khusus Piala Eropa di Harian Republika habis saya lahap semua. Artikel singkat mengenai berita marginal, macam ulah unik suporter, pun saya baca tuntas. Saya sedang gila bola.
Belanda melaju dengan gagah. Prancis dengan Zidane-nya ditekuk di fase grup. Rasakan kau, Zidane. Inilah kekuatan Belanda, tim jagoan saya. Kokoh di puncak grup, Belanda melanjutkan hegemoninya dengan menghancurkan Yugoslavia. Namun, suka cita saya terhenti di semifinal. Belanda kalah adu penalti dari Italia. Saya tak suka Italia yang lebih sering bermain defensif dengan taktik catenaccio-nya. Hati kecil saya mendendam. Saya termasuk yang bersorak gembira ketika Korea Selatan mengalahkan Italia lewat gol emas Ahn Jung Hwan di Piala Dunia 2002. Dan berhubung punggawa timnasnya berisikan pemain-pemain Juventus, saya pun jadi terbawa tak suka klub berkostum putih hitam itu. Final Piala Eropa sudah tak menarik minat saya. Tengok saja siapa dua tim yang bertanding, Prancis dan Italia.
Pada musim Piala Dunia 2002, saya langsung pulang jika kelas sekolah sudah selesai. Nongkrong di depan tv dengan sikap tak sabar menanti pertandingan. Kakek saya sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya. Di akhir kompetisi, saya sumringah. Alasannya apalagi kalau bukan keberhasilan Brazil menjadi juara. Ditambah The Phenomenon Ronaldo yang sukses menjadi pencetak gol terbanyak. Bravo Brazil!
Itulah cerita singkat ihwal bagaimana saya suka nonton sepak bola. Suka Brazil, Belanda dan Barcelona. Tak suka Prancis, Zidane, Italia, dan Juventus.
*Catatan penting: tak suka ≠ benci

