Setahun lalu Pak Habir pernah menyebrang ke Pulau Jawa. Ke Jawa Timur tepatnya. Ia hendak mengikuti sebuah acara perkumpulan pendekar (baca: ahli bela diri). Sayang acaranya dibatalkan. Jadilah Pak Habir kembali pulang ke Tokowuta. Tak jadi unjuk kemampuan di tanah Jawa.
Saya baru berkenalan dengan beliau sekitar 10 hari yang lalu. Padahal kami sering salat berjamaah sejak saya datang ke Tokowuta. Kadang hanya salat berdua. Namun, baru 10 hari lalu saya memberanikan diri menyapa dan bertukar nama.
Di Tokowuta hanya ada satu masjid. Fastabiqul Khairat namanya. Sebuah masjid kecil yang ketika salat jumat pun tak pernah penuh. Kosong ditinggalkan jamaahnya.
Melihat bangunannya sungguh membuat hati miris. Lantainya terbuat dari adukan semen yang masih kasar. Dinding-dindingnya terdiri atas kumpulan seng yang sebagian sudah berkarat.

Inilah masjid kesayangan saya sekarang. Pengganti Masjid Salman ketika masih di kampus gajah. Tempat kami ruku’ dan sujud mengadu dan meminta kepada-Nya.

