Simpang empat Yogyakarta memang istimewa. Perpotongan antara Jalan Malioboro dengan Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan ini merupakan salah satu titik massa di Kota Gudeg. Saban hari, khususnya di akhir pekan, ada saja pertunjukan kebudayaan dari pelbagai komunitas masyarakat Yogya. Selain itu, di simpang empat inilah terdapat titik nol kilometer Kota Yogyakarta.
Terminologi “titik nol” di atas artinya titik acuan untuk mengukur jarak antara Kota Yogyakarta dengan daerah-daerah yang lainnya. Sebutlah jarak Yogyakarta dengan Bandung yang 388 kilometer panjangnya. Jarak itu dihitung dari titik nol di simpang empat Yogya hingga titik nol Bandung yang ada di depan Hotel Savoy Homan (Jalan Asia-Afrika).
Titik nol, jika dibawa ke konteks amal, maka ia akan mewujud sebagai “niat”. Niat adalah titik acuan yang menjadi dasar untuk mengkuantifikasi nilai sebuah amal. Jika rusak niatnya, maka rusak pula amalnya. Begitu pun sebaliknya. Oleh karena itu, perkara niat sungguh vital adanya.
Niat yang tertinggi derajatnya adalah niat karena Dzat Yang Maha Tinggi. Tak ada yang lebih tinggi daripada niat setingkat ini. Karena toh memang tak ada yang lebih tinggi dari-Nya. Setidaknya begitu bagi saya, yang mengakui keberadaan Tuhan.
Sudahkah niat kita semata hanya karena-Nya? Mari kita evaluasi lagi dan lagi “titik nol” kita.
***
Bandung, 4 Desember 2010
Dida Sadariksa
Pingback: Ganti Tema « Blog Dida Sadariksa·