Perspektif tentang Etnis Tionghoa

Pemukiman

Hampir sebagian besar pemukiman masyarakat Tionghoa di Indonesia dibentuk akibat proses aktivitas perdagangan. Hal ini nampak di Jawa, Sulawesi dan Kalimantan Barat, dengan dominasi berada di pulau Jawa.[1]

Gambaran umum masyarakat Tionghoa di hampir sebagian wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, biasanya dilukiskan sebagai jajaran rumah-toko yang menempati tempat-tempat strategis di suatu kota, seperti pasar. Pasar menjadi titik temu antar berbagai kelompok sosial, khususnya antara komunitas Tionghoa dengan penduduk setempat. Lokasi bangunan yang paling disukai oleh orang Tionghoa adalah yang menjajakan dagangan dan jasa, tempat tersebut merupakan wilayah di sepanjang jalan-jalan besar dan di perempatan-perempatan utama.[2]

Sikap

Etnis Tionghoa di Indonesia dalam membina kesehariannya menerapkan tipe sikap etnosentrisme, introverisme, dan orientasi leluhur secara fanatis. Atas dasar penerapan ketiga tipe sikap itulah, maka kehidupannya lestari dengan kondisi kecinaan yang harmonis sebagai masyarakat eksklusif.

Sikap etnosentrisme, introverisme, dan orientasi leluhur melahirkan sikap mentalitas bangsa yang senasib sepenanggungan sebagai imigran. Pola hidup eksklusifisme hingga saat ini terus dibina dan dipelihara melalui jaringan sosial, kohesi sosial dan kohesi religius. Kemudian hal ini menjadi sarana pemersatu dalam rangka melestarikan budaya leluhur yang berperan sebagai simbol masyarakat Tionghoa.[3]

Hal ini terbukti pada ketiga nilai dalam perilaku bisnis―hopeng, hongsui, dan hokki―masyarakat Tionghoa yang dipengang teguh sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Ada juga yang terlihat pada budaya pemakaman etnis Tionghoa yang masih mengikuti cara nenek moyang mereka, mulai dari proses upacara pemakaman sampai pada bentuk tempat pemakamannya. Selain itu, ada pula pemukiman mereka yang menunjukkan simbol-simbol kebudayaan mereka seperti halnya pemajangan lilin-lilin merah, lampion, dan lain-lain. Serta masih banyak lagi kebudayaan masyarakat Tionghoa yang terus dipertahankan di bumi Indonesia ini.

Lampion merupakan salah satu ciri identitas masyarakat tionghoa

Pola Bisnis

Struktur pada perusahaan-perusahaan Tionghoa, mulai dari pemilikan sampai pengelolaan, semuanya diisi oleh etnis Tionghoa. Belum ada perusahaan-perusahaan Tionghoa yang menempatkan masyarakat pribumi pada posisi struktural dan kepemilikan. Alasannya, tidak lain adalah anggapan bahwa masyarakat pribumi tidak (atau belum) memiliki kemampuan bekerja, berkreasi, dan bertanggung jawab yang cukup sesuai standar mereka.

Sebenarnya ada beberapa perusahaan yang sudah mulai menerima pribumi di posisi penting. Namun, etnis Tionghoa tampaknya secara sengaja dan kolektif tidak bersedia mempekerjakan pribumi pada posisi-posisi tertentu. Mereka takut rahasia keberhasilan usahanya akan disedot orang pribumi sehingga berpotensi menjadi saingan berat mereka.[4]

Sosialisasi

Koentjaraningrat dalam sebuah tulisannya di Kompas menyatakan, “Masyarakat Tionghoa merupakan pendatang, seperti halnya orang Muhajir di Pakistan atau orang Tamil di Srilanka. Mereka secara demografis merupakan minoritas, maka mereka sebaiknya mengintegrasikan dan mengasimilasikan diri dengan suku bangsa serta kebudayaan di daerah tempat mereka menetap.”[5] Namun, hal ini tidak terjadi secara mudah mengingat ada beberapa faktor yang menyulitkan proses asimilasi masyarakat Tionghoa dengan masyarakat pribumi. Faktor-faktor ini, antara lain:[6]

  1. perbedaan ciri-ciri badaniah;
  2. in-group feeling yang sangat kuat pada masyarakat Tionghoa, sehingga mereka lebih kuat mempertahankan identitas sosial dan kebudayaannya yang eksklusif;
  3. dominasi ekonomi yang menyebabkan timbulnya sikap tinggi hati. Dominasi ekonomi tersebut bersumber pada fasilitas-fasilitas yang dahulu diberikan oleh pemerintah Belanda, dan juga karena kemampuan teknis dalam perdagangan serta ketekunan dalam berusaha.

Dalam hal ini bisa dikatakan terjadi kegersangan relasi sosial antara masyarakat pribumi dengan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Ganjalan interaksi sosial diantara keduanya adalah karena sistem yang cenderung bertolak belakang. Anggapan terhadap sikap etnis Tionghoa―yang dinilai cenderung suka hidup dalam kelompoknya, tidak mau bersosialisasi dengan etnis lain, masih berafiliasi ke negeri leluhur―membuktikan bahwa masih adanya parasangka negatif dari masyarakat pribumi. Hal ini diperparah oleh maraknya etnis Tionghoa yang mendirikan berbagai perkumpulan berdasarkan kelompok sesama etnis.

Orang-orang Indonesia keturunan persilangan antara masyrakat Tionghoa dan pribumi bisa menjadi jembatan antar budaya serta simpul rasa saling percaya diantara masyarakat. Jaringan dan etos kerja (dagang) patut ditumbuhkembangkan untuk memperkuat persaingan ekonomi antar negara. Untuk mewujudkan itu semua perlu adanya jaminan kesetaraan hak dan penghapusan diskriminasi yang memberi ruang bagi partisipasi, pertukaran dan kemitraan. Dengan demikian, wujud harmonisasi sosial dapat terbuka lebar antar dua kubu kebudayaan melalui proses keterbukaan.

***

Catatan kaki:

[1] I. Wibowo, Harga Yang Harus Dibayar Cina di Indonesia : Sketsa Pergulatan Etnis (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama dan Pusat Studi Cina, 2001), hal. 95.

[2] Ibid, hal. 197.

[3] M. D. La Ode, Tiga Muka Etnis Cina-Indonesia: Fenomena di Kalimantan Barat Prespektif Ketahanan Nasional (Yogyakarta: Bigaraf Publishing, 1997), hal. 186.

[4] Ibid, hal. 192.

[5] K. Sindhunata & H. Junus Jahja, “Generasi Imlek”, Republika (22 Maret 2002).

[6] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: Grafindo, 1990), hal. 85.

***

Note: materi ini diambil dari skripsi karya Luluk Nurhayati, Alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya.

9 responses to “Perspektif tentang Etnis Tionghoa

  1. Did, semangat orang Tionghoa dalam berdagang emang patut diacungi jempol, buktinya (mayoritas) dr mereka bs jadi pemiliki toko. Liat aja di Kosambi, pemilik tokonya keturunan Tionghoa, terus kuli/pesuruhnya Pribumi (Indonesia).. Wah2, Indonesia jd “budak” di rumahnya sendiri nih..

    Antrop teh ku Pa Chairil kan? Wah, Shio Chi Chi atuh eta.. haha. :D
    Buaji..

    • Yap, sejarah hidup mereka sejak dulu (di China) memang dibangun dengan karakter budaya berdagang. Jalur Sutra jadi bukti sahihnya. Budaya ini tetap lestari seiring pendidikan kepada keturunannya dengan melibatkan mereka dalam manajerial toko. Pada masa Orba, mereka mendapat kekangan dari pemerintah, kecuali di bidang ekonomi. Mereka tetap melaju. Jadi, gak heran sekarang di masa Reformasi yang semakin bebas mereka semakin menjadi.

      Sayangnya ya sesuai pendapat ente, Jal. Mereka kurang apresiatif terhadap masyarakat Pribumi. Ini saya amati di Banceuy, misalnya. Pas survei + wawancara tugas antro, saya gak liat ada orang pribumi yang dilibatkan ke tingkat manajerial toko. Rata-rata kariernya “mandeg” hanya sampai pegawai biasa.

  2. Daya Saing Indonesia tahun ini naik dari peringkat 54 jadi 44 dari 144 negara. Pertanyaannya: Prestasi pribumi kah, atau saudara2 kita yg keturunan Tionghoa? -buat motivasi saja-

    • Buat ngejawabnya ya kita harus lihat parameter penilaian daya saingnya tu dari apa aja. Saya gak tau..hehehe.. :D

      Cuma yang jelas, apakah itu Tionghoa atau pribumi, keduanya sama-sama masyarakat Indonesia. Warga negara Indonesia. Idealnya sih ya kita semua bersama-sama membangun negeri Indonesia ini.. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s