Interaksi Sosial

Pengertian Interaksi Sosial

Interaksi sosial adalah kegiatan individu atau kelompok individu dalam rangka pertentangan, pemanfaatan, partisipasi, dan penyesuaian dengan individu atau kelompok individu lainnya. Pengertian yang diberikan oleh Worth ini diperjelas oleh H. Bonner dengan menitikberatkan fungsi manusia dalam interaksi sosial.

Interaksi sosial merupakan suatu hubungan antara dua individu atau lebih dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki  kelakuan individu yang lain.[1]

-Bonner-

Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Di dalam interaksi sosial terkandung makna tentang kontak secara timbal balik. Stimulasi dan respon pada individu atau kelompok individu, bagi Alvin dan Helen Gouldnev, dalam suatu interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi.[2]

  1. Adanya kontak sosial. Kontak sosial, pada dasarnya, merupakan aksi individu atau kelompok individu yang mempunyai makna bagi pelakunya dan kemudian ditangkap oleh individu atau kelompok individu yang lain. Kontak sosial tidak saja terjadi pada jarak yang dekat, misalnya dengan berhadapan muka, sebatas jarak sesuai kemampuan panca indra manusia, tetapi juga bisa pada jarak jauh dengan menggunakan alat-alat pembantu, misalnya telepon.
  2. Adanya komunikasi. Arti terpenting dari komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran atas perilaku―baik yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak badaniah, atau sikap―dan perasaan yang disampaikan oleh orang lain. Dengan adanya komunikasi, perilaku dan perasaan seorang individu atau kelompok individu dapat diketahui oleh individu atau kelompok individu lainnya.[3]

Proses Interaksi Sosial

Interaksi sosial antar manusia selalu berada dalam proses yang dinamis. Tanpa adanya proses, interaksi sosial hanya terjadi dari satu pihak ke pihak lain tanpa meninggalkan kesan apa-apa. Proses-proses interaksi sosial ini ada empat, yaitu:[4]

  1. pertukaran sosial merupakan proses interaksi sosial yang terjadi karena ada pertukaran perilaku (verbal / non-verbal) yang bermakna demi meningkatkan hubungan antara dua pihak. Misalnya, pertukaran informasi karena kebutuhan untuk saling mengetahui;
  2. kerja sama untuk membentuk kesatuan pola pikir dan pola tindak. Artinya, dua pihak bekerja sama karena memiliki gagasan yang sama, atau bekerja sama dalam bentuk fisik;
  3. persaingan menunjukkan bahwa interaksi sosial terjadi karena kedua pihak sama-sama menginginkan atau membutuhkan barang atau jasa yang langka. Apalagi jika barang atau jasa tersebut hanya ada satu, sehingga kedua pihak harus bersaing untuk mendapatkannya;
  4. konflik merupakan proses interaksi sosial dimana satu pihak berjuang melawan pihak lain untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan, atau untuk mendapatkan apa yang diinginkan dan dibutuhkannya. Kerap kali proses interaksi sosial yang berbentuk konflik disertai dengan kekerasan psikologis maupun fisik.

Catatan kaki:

[1] Abu Ahmadi, Psikologi Sosial (Jakarta: Rieneka Cipta, 1991), hal. 54.

[2] Soeleman B. Taneko, Struktur dan Proses Sosial (Jakarta: Grafindo, 2004), hal. 110.

[3] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: Grafindo, 1990), hal. 67.

[4] Alo Liliweri, Prasangka dan Konflik: Komunikasi  Lintas Budaya Masyarakat Multikultur (Yogyakarta: LKIS Pelangi Aksara, 2005), hal. 129.


Note: diambil dari skripsi karya Luluk Nurhayati, Alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s