Budaya Berdagang Masyarakat Tionghoa

Budaya berdagang adalah hasil karya, cipta, dan rasa manusia dalam kegiatan jual beli, yakni dimana penjual menawarkan produk yang dijualnya kepada pembeli. Dalam hal ini, budaya meliputi kaidah-kaidah, nilai-nilai, ajaran, teori, dan aturan aturan yang membentuk dan terwujud dalam perilaku manusia.

Hopeng, Hongsui dan Hokki―ketiga nilai tradisional China ini―sangat mempengaruhi perilaku orang Tionghoa, baik dalam kehidupan sosial maupun aktivitas ekonomi dimanapun mereka berada. Ketiga nilai ini merupakan kepercayaan dan mitos yang diyakini orang Tionghoa dalam menjalankan kehidupan dan berbagai usaha yang mereka tekuni.[1] Melihat secara jernih nilai-nilai dalam praktek bisnis Tionghoa ini akan menunjukkan betapa suatu nilai kebudayaan bisa berperan dalam siasat ekonomi politik dan mampu menunjukkan hasil yang luar biasa.[2]

Hopeng

Hopeng adalah cara untuk menjaga hubungan baik dengan relasi bisnis. Bagi orang Tionghoa, hubungan dengan relasi sangat penting. Sebagian besar usaha orang Tionghoa berasal dari keluarga atau teman-teman dekat. Sebagaimana ditulis Vleming, peneliti mengenai perilaku dagang masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda sebelum kemerdekaan, “Selama berabad-abad bangsa China mempunyai pandangan bahwa individu adalah sebagian dari keluarga, keluarga bagian dari klan, dan klan merupakan bagian dari bangsa. Oleh karena itu, dapat dimengerti mengapa dalam berdagang pengusaha China selalu bermitra dengan anggota keluarga dan sahabatnya.”

Bentuk usaha perkongsian (hui) tumbuh subur di kalangan Tionghoa karena dianggap sebagai bentuk yang paling tepat untuk mewadahi kepentingan ekonomi keluarga, klan, atau bahkan bangsa. Tujuan seorang Tionghoa dalam mengepalai suatu kongsi atau perseroan adalah untuk menggalang kerja sama dengan sesama anggota keluarga atau kawan dekat mereka. Hopeng dalam hal ini berkisar seputar relasi keluarga, suku, dan bangsa;

Hongsui

Kepercayaan terhadap hongsui adalah kepercayaan pada faktor-faktor alamiah yang menunjang nasib baik dan buruk manusia. Hongsui menunjukkan bidang atau wilayah yang sesuai dengan keberuntungan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun peruntungan perdagangan. Misalnya, peruntungan sebuah rumah memerlukan perhitungan rumit dari para ahli hongsui agar rumah tersebut membawa rejeki bagi yang menempatinya. Dengan teori geomancy, keberadaan sebuah tempat disesuaikan dengan waktu dan suasana;

Hokki

Nilai yang satu ini masih memiliki kaitan dengan unsur sebelumnya (baca: hongsui). Hokki merupakan peruntungan nasib baik. Para pengusaha Tionghoa memegang suatu konsep pengelolaan resiko yang dilandasi dengan melakukan suatu pengelolaan nasib atau takdir melalui hongsui, sehingga terlihat bahwa hokki ini tidak terpaku pada sikap fatalistik. Hokki lebih dipersepsikan bagaimana menyiasati nasib agar selalu mendapat nasib baik dan keuntungan.

Sistem yang dianut oleh pengusaha dan pedagang Tionghoa di Indonesia, berakar kuat pada sistem kongsi. Kongsi adalah suatu permufakatan antara dua orang atau lebih untuk melakukan usaha secara bersama dengan tujuan menikmati secara bersama manfaat / keuntungan yang diperoleh dari usaha itu.[3] Titik berat tujuan kongsi tersebut bagi masyarakat Tionghoa adalah menumbuhkembangkan kehidupan perekonomiannya. Kongsi dilakukan antar keluarga, masyarakat sekitar, atau dengan para pejabat demi menjaga keamanan dan kelancaran usahanya. Misalnya, masyarakat Tionghoa menjalin hubungan dengan penguasa, baik kolonial atau pribumi. Hubungan ini terjadi karena kesamaan kepentingan, dimana pedagang Tionghoa memerlukan perlindungan dari hukum dan pesaing dagang mereka, sementara penguasa membutuhkan uang untuk menjaga prestise sosial mereka. Hubungan saling membutuhkan ini yang dijaga oleh orang Tionghoa agar mereka bisa memanfaatkannya untuk mengembangkan aktivitas ekonomi mereka.[4]

Etos kerja masyarakat Tionghoa adalah etos yang luar biasa. Sejak kecil warga keturunan di Indonesia selalu diajarkan untuk tahu diri karena mereka merupakan kaum minoritas, sehingga dalam bertindak tidak boleh terlalu menonjol atau berlebihan meminta bantuan kepada orang lain. Dalam pekerjaan, masyarakat Tionghoa harus mampu menguasai banyak jenis pekerjaan, mulai dari yang paling mudah hingga yang paling sulit. Mereka menanamkan suatu ideologi bahwa setiap usaha / pekerjaan tidak selalu permanen, seperti layaknya roda berputar, suatu saat di atas, lain waktu di bawah. Modal bagi masyarakat Tionghoa bukan berupa uang saja, tapi juga berupa keterampilan, semangat, dan kepercayaan dari relasi, yang kesemuanya itu akan membuahkan suatu hasil.[5]

Ajaran Konfusianisme atau Kong Hu Chu sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku dagang atau bisnis masyarakat Tionghoa. Khong Hu Chu adalah seorang filusuf dari China yang hidup pada waktu 2500 tahun yang lalu. Convusius (Khong Hu Chu) dikenal sebagai pekerja keras demi keluarganya, mengenal masyarakat bawah, dan mengerti penderitaan orang-orang. Konfusianisme adalah ajaran, filsafat atau sikap yang berhubungan dengan kemanusiaan, meliputi tujuan dan keinginan. Dalam konfusianisme manusia adalah pusat dari dunia-dunia: manusia tidak dapat hidup sendirian melainkan hidup bersama-sama dengan manusia yang lain.[6]


Catatan kaki:

[1] Emmy Kuswandari, “Hopeng, Hongsui, Hokki di Ranah Minang”, Republika Sinar Harapan (30 Mei 1998).

[2] Lembaga Studi Realino, Pengusaha Ekonomi dan Siasat Pengusaha Tionghoa: Seri Siasat Kebudayaan (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hal. 52.

[3] M. D. La Ode, Tiga Muka Etnis Cina-Indonesia: Fenomena di Kalimantan Barat Prespektif Ketahanan Nasional (Yogyakarta: Bigaraf Publishing, 1997), hal. 150.

[4] Emmy Kuswandari, “Hopeng, Hongsui, Hokki di Ranah Minang”, Republika Sinar Harapan (30 Mei 1998).

[5] http://mannajemen-unnes.blogspot.com/2008/04/budaya-dagang-tiong-hoa.html

[6] http://www.wam.umd.edu/-tkang


Note: diambil dari skripsi karya Luluk Nurhayati, Alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya.

5 responses on “Budaya Berdagang Masyarakat Tionghoa

  1. Pingback: Perspektif tentang Etnis Tionghoa « Blog Dida Sadariksa·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s