Data-data Buku
- Judul: Mengikat Makna Update
- Pengarang: Hernowo
- Penerbit: Kaifa
- Tahun terbit: 2009
- Jumlah halaman: 213 (termasuk index)
Pembuka
Menulis adalah sejenis keterampilan. Untuk dapat menguasai keterampilan menulis, seseorang perlu berproses menulis atau membiasakan diri menulis dalam rentang waktu yang panjang.
-Hernowo, dalam Mengikat Makna Update-
Jika membaca tulisan di cover-nya, kita bisa menangkap keinginan penulis untuk membentuk paradigma baru seputar kegiatan baca-tulis bagi pembaca bukunya. Selama ini ter-frame pada sebagian besar orang bahwa kegiatan baca-tulis adalah kegiatan yang membosankan dan sulit. Hernowo ingin mengubah pandangan itu lewat karyanya ini.
Buku Mengikat Makna Update merupakan karya Hernowo yang ke-35. Angka ini bisa dikatakan fantastis karena pencapaian ini dilakukan dalam waktu delapan tahun saja. Itu artinya, rata-rata Hernowo menerbitkan 4 buku setiap tahunnya. Hernowo mulai menulis buku sejak tahun 2001. Buku pertamanya berjudul Mengikat Makna. Buku yang akan dibahas di sini (baca: buku Mengikat Makna Update) adalah sebuah “update” buku pertamanya tersebut. Bagaimana dalam kurun waktu delapan tahun telah terjadi revolusi pemikiran tentang arti “makna” bagi seorang Hernowo.
“Jika dalam Mengikat Makna edisi awal, makna dipahami dalam artinya yang sedikit banyak lebih bersifat literal-lahiriah (eksoterik), dalam edisi update-nya ini orang, tidak bisa tidak, akan melihat bahwa konsep yang sama bagi Hernowo telah berubah wujud menjadi lebih bersifat batiniah (esoterik). Dari sebuah monumen kerja keras pengembangan diri, Hernowo telah bermetamorfosis menjadi seorang ‘sufi’ baca-tulis,” ungkap Haidar Bagir dalam pengantar buku Mengikat Makna Update.
Buku Mengikat Makna Update lahir bertepatan dengan maraknya penggunaan teknologi fenomenal berupa Web 2.0 yang menurut Thomas L. Friedman, telah mengubah “dunia menjadi datar” (Friedman, The World Is Flat). Berkat YouTube, MySpace, Flickr, dan terutama Facebook, masyarakat di seluruh dunia menjadi sangat mudah berinteraksi dan mengembangkan diri. Spirit kelahiran Mengikat Makna Update, salah satunya, memang diinspirasi oleh kemunculan teknologi Web 2.0. Buku ini dilahirkan untuk lebih memudahkan masyarakat awam memasuki dan menikmati dunia membaca dan menulis yang memberdayakan.
Pembahasan
Bagi Hernowo, jika seseorang ingin mengingat kemudian memanfaatkan konsep “mengikat makna”, ia hanya perlu menggunakan tiga langkah:
pertama, menyediakan “ruang privat”;
kedua, memadukan membaca dan menulis dalam suatu paket yang diselenggarakan secara kontinu dan konsisten;
ketiga, berusaha sekuat daya untuk menemukan makna ketika menjalankan kegiatan membaca dan menulis.
Langkah 1
Membangun “Ruang Privat” di dalam Pikiran Anda
Sesuatu itu memiliki makna jika sesuatu itu penting bagi pribadi seseorang.
-Elaine B. Johnson, Ph.D., dalam ”Contetual Teaching and Learning”-
Di sini jelas bahwa “makna” itu terkait dengan diri pribadi seseorang, dan ia dapat ditemukan jika seseorang itu mengaitkan atau mengontekskan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Bagi Hernowo, kegiatan menulis yang baik adalah diawali dengan menulis untuk diri sendiri (Hernowo menyingkatnya sebagai MUDS). “Kebermaknaan” adalah sesuatu yang bersifat personal. Jika kita menanyakan tentang makna sesuatu pada dua orang, kita akan mendapatkan dua jawaban yang berbeda.
“Selfish bukan mengarahkan Anda untuk egoistis atau hanya mementingkan diri Anda sendiri dan tidak peduli kepada orang lain. Selfish yang Anda praktikkan ketika Anda menulis untuk keperluan menyingkapkan dan menjelajah diri Anda yang masih berada di “ruang privat” (MUDS), bukan berada di “ruang publik” (menulis untuk orang lain),” kata Hernowo.
Setelah merumuskan paradigma selfish dalam menulis, Hernowo melanjutkannya dengan memperkenalkan konsep AMBAK (Apa Manfaatnya BAgiKu?). Dalam menulis, kita harus memahamkan AMBAK ini dengan baik. “Segala sesuatu yang ingin Anda kerjakan harus menjanjikan manfaat bagi diri Anda atau Anda tidak akan termotivasi untuk melakukannya,” papar Hernowo.
Jelas konsep AMBAK ini terkait dengan motivasi diri. Dengan menemukan “kebermaknaan” (baca: kebermanfaatan) dari sesuatu, maka kita akan senantiasa termotivasi dan menikmati apa yang kita kerjakan, termasuk kegiatan menulis.
Konsep berikutnya, yang dipaparkan Hernowo, adalah keterkaitan menulis dengan kebahagiaan. Hernowo berpijak pada hasil riset yang dilakukan oleh seorang psikolog-peneiti bernama Dr. James W. Pennebaker yang meneliti manfaat menulis untuk kesehatan.
“Orang-orang yang menuliskan pikiran dan perasaan terdalam mereka tentang pengalaman traumatis menunjukkan peningkatan fungsi kekebalan tubuh dibandingkan dengan orang-orang yang menuliskan masalah-masalah remeh temeh… Anda tidak usah terlalu memikirkan masalah tata bahasa, ejaan, ataupun struktur kalimat ketika menulis. Anda juga harus berusaha untuk membebaskan diri Anda. Terserah kepada Anda untuk menulis apa saja yang Anda inginkan. Yang penting, Anda merasa nyaman dan tekanan Anda hilang ketika menulis…,” demikian penjelasan Dr. Pennebaker.
Kegiatan yang aplikatif untuk mengakomodasi hal ini adalah dengan menulis diary atau catatan harian. Kita bisa menuliskan apa saja yang ada dalam hati dan pikiran kita di sana.
Menurut saya (baca: peresensi), jika kembali pada konsep AMBAK, kebahagiaan adalah sebuah manfaat dan sumber motivasi yang tertinggi dalam menulis. Ini adalah bahasan yang paling menarik di buku ini. Hasil riset sebagaimana yang dipaparkan di atas membuka pandangan baru saya tentang menulis: menulis untuk menemukan kebahagiaan. Seperti yang sering diungkapkan dalam sebuah kata-kata bijak, kebahagiaan adalah sesuatu yang dicari setiap orang, namun hanya sedikit yang berhasil menemukannya. Jika dengan menulis kita bisa menemukan kebahagiaan itu, tentulah menulis tidak akan menjadi beban lagi.
Langkah 2
Menyelenggarakan Kegiatan Membaca dan Menulis Secara Bersamaan
…membaca buku yang baik itu bagaikan mengadakan percakapan dengan para cendikiawan yang paling cemerlang dari masa lampau―yakni para penulis buku itu. Ini semua bahkan merupakan percakapan berbobot lantaran dalam buku-buku itu mereka menuangkan gagasan-gagasan mereka yang terbaik semata-mata….
-Rene Descartes-
Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.
-‘Ali bin Abi Thalib-
Kedua kutipan di atas cocok untuk menggambarkan apa yang dijelaskan Hernowo dalam langkah kedua kegiatan “mengikat makna”. Membaca memerlukan dan menulis memerlukan membaca. Keduanya tidak bisa dipisahkan.
Membaca yang dilakukan di sini adalah membaca “bacaan yang bergizi”, yaitu bacaan yang bisa meningkatkan kualitas diri kita sebagai manusia. Bentuk bacaan di sini tidak terbatas pada buku saja, tetapi bisa juga koran, majalah, artikel, dan lain-lainnya.
Selesai membaca, kegiatan berikutnya adalah menuliskan “makna” dari apa yang kita baca. Jangan sampai kegiatan membaca kita tidak meninggalkan jejak sama sekali. Secara umum, metode penulisan biasanya dilakukan dengan berdasar pada fungsi otak manusia (brain based). Otak manusia terbagi menjadi dua bagian, yakni otak kiri dan otak kanan. Dua belahan ini memiliki fungsi yang amat berbeda: kiri teratur, kanan bebas. Penulisan dilakukan dengan penggunaan otak kanan terlebih dahulu. Tuliskan sebebas-bebasnya apa yang ada dalam pikiran. Setelah semua bahan tulisan tampak semua di layar monitor, kita bisa memanfaatkan belahan otak kiri untuk menata tulisan agar rapi dan enak dibaca.
Langkah 3
Berusaha Sekuat Daya Meraih Makna
Pada bagian ini, Hernowo memaparkan berbagai kegiatan personal yang dilakukannya dalam “mengikat makna”. Ia mengungkapkan bahwa kegiatan “mengikat makna” secara nyata telah membantunya dalam memperbaiki diri. Totalnya ada 7 (tujuh) kegiatan yang dipaparkan Hernowo, yaitu:
- mengeksplorasi makna nama-diri;
- mengeksplorasi makna hari kelahiran;
- mengeksplorasi makna kehidupan masa kecil;
- mengeksplorasi makna menetap di sebuah rumah;
- mengeksplorasi makna belajar di sekolah;
- mengeksplorasi makna menjadi Orang Indonesia;
- mengeksplorasi makna menjadi diri sendiri.
Penutup
Buku ke-35 Hernowo ini adalah sebuah pembuktian bahwa kegiatan baca-tulis tidak lagi bisa dipersepsikan sebagai kegiatan yang membosankan dan sulit. Berbeda dengan paradigma kegiatan baca-tulis di buku-buku yang sudah ada, paradigma baru yang dibangun (oleh Hernowo) adalah “kegiatan baca-tulis yang memberdayakan”. Pandangan bahwa kegiatan baca-tulis adalah sebuah bentuk penghargaan kepada diri sendiri akan memberikan gairah tersendiri dalam menekuni dunia baca-tulis ini.
Buku Mengikat Makna Update sangat cocok bagi orang yang baru memulai kegiatan baca-tulis dan juga bagi mereka yang telah menekuni dunia ini sejak lama. Buku ini cocok dibaca sebagai panduan (guidence) dalam kegiatan baca-tulis. Paradigma “memberdayakan” harus senantiasa dibangun agar kita bisa memeperoleh “kebermaknaan” dari kegiatan baca-tulis ini. Jika saya (baca: peresensi) harus memberikan nilai dalam bentuk skala, saya akan memberikan angka 8 dari 10. Ya, pada akhirnya, kegiatan baca-tulis adalah sebuah kegiatan “mengikat makna” sebagaimana judul buku Hernowo ini, Mengikat Makna Update.
Wauw…. empat buku setiap tahun…
Susah untuk menyeimbangkan kualitas tulisannya..
haha
susah buat kita yang masih amatir. buktinya dia bisa kok 35 buku dalam 8 tahun.