Dalam buku Mengikat Makna Update, Hernowo menyebutkan bahwa ada 3 (tiga) unsur vital dalam membuat tulisan, yaitu:
- bagaimana menemukan ide yang menggugah;
- bagaimana mengomunikasikan ide itu secara jernih dan tertata;
- bagaimana mengemas―atau “mendandani” ide itu―agar dapat memikat orang untuk membacanya.
Ketiga unsur ini menentukan kualitas dari suatu tulisan. Tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa mengakomodasi ketiga unsur tersebut.
Ada banyak media untuk memublikasikan tulisan, seperti blog, website pribadi, buku, atau media massa. Masing-masing media memiliki kekurangan dan kelebihan. Tulisan ini khusus akan memaparkan beberapa tips agar tulisan kita dimuat di media massa, seperti koran, majalah, tabloid, dll.
Mengenali media dan segmentasi pembaca
Ketika kita ingin menulis untuk media massa, 2 (dua) hal penting yang harus kita perhatikan adalah karakter media dan segmentasi pembacanya. Setiap media pasti memiliki karakter yang khas. Misalnya, ada media yang sering mengkritik kebijakan pemerintah, ada yang lebih fokus ke masalah-masalah sosial, atau ada pula media yang concern ke isu global. Selain itu, setiap media pun memiliki segmentasi pembacanya masing-masing. Kita harus tahu dengan baik siapa saja segmentasi pembaca media tersebut.
Kualitas tulisan yang akan kita buat harus disesuaikan dengan kedua hal tersebut―karakter media dan segmentasi pembaca. Ada perbedaan kualitas ketika kita menulis untuk media skala nasional dan media skala lokal.
Menjemput ide
Ide bertebaran dimana saja. Saya tinggal mencomotnya saja satu persatu. Ide itu tidak dicari, karena kalau tidak ketemu repot jadinya. Maka saya menjemput ide, bukan sekadar mencarinya.
-Gola Gong, penulis-
Untuk menjemput ide, kita membutuhkan stimulus (rangsangan). Setidaknya ada 3 (tiga) cara untuk memperoleh stimulus tersebut, yaitu banyak membaca, banyak berjalan dan banyak bersilatrahim (Bambang Trim, 2006).
Pertama, banyak membaca. Membaca yang dimaksud di sini adalah membaca buku atau studi literatur. Semakin banyak buku yang kita baca, semakin besar kemungkinan ide akan muncul. Selain itu, membaca akan memperkaya perbendaharaan kata kita sehingga kualitas tulisan akan semakin baik (tidak membosankan).
Kedua, banyak berjalan. Bepergian akan banyak memberikan input dan hikmah untuk dijadikan bahan tulisan. Memori otak juga akan terisi dengan berbagai macam fenomena yang bisa dijabarkan di dalam tulisan.
Ketiga, banyak bersilaturahim. Silaturahim akan membuka pintu rezeki. Rezeki di sini tidak selalu urusan uang. Ia bisa berupa ide dan bahan untuk tulisan. Bentuk silaturahim, seperti diskusi atau sharing, akan menambah kekayaan ide untuk tulisan.
Memilih judul
Judul adalah hal yang pertama dilihat dari sebuah tulisan. Judul akan menentukan apakah tulisan kita layak muat atau tidak, atau setidaknya menarik perhatian redaktur untuk membaca lebih lanjut. FYI, setiap harinya ada ratusan tulisan yang masuk ke meja redaksi. Seleksi termudah dan tercepat adalah dengan melihat judul tulisan dan paragraf pertamanya.
Memilih judul yang kontoversi bisa menjadi “senjata” dimuatnya tulisan. Ini bisa menjadi keunggulan karena tulisan kita lebih “eye catching” sehingga mudah menarik perhatian pembaca. Namun, kita harus hati-hati. Tulisan seperti ini biasanya akan mendapat “serangan” lebih dahsyat ketimbang tulisan-tulisan yang biasa. Hal yang harus dipersiapkan adalah argumentasi atas apa yang kita tulis. Oleh karena itu, dalil dan riset atau pengalaman merupakan “amunisi” yang sangat penting untuk mempertahankan argumentasi tulisan kita.
Menentukan sudut pandang
Tulisan yang baik adalah tulisan yang memiliki sudut pandang yang ajeg. Sekali memilih suatu sudut pandang, maka kita harus konsisten dengan pilihan tersebut. Hindari ambiguitas sudut pandang dalam tulisan.
Sudut pandang yang baik adalah bagaimana kita bisa “menjadi” si objek tulisan. Contohnya, kita ingin menulis tentang kehidupan seorang bapak tua penyapu jalan. Kita tidak bisa sekadar berperan sebagai “pengamat”, tetapi berperanlah “menjadi” si bapak tua penyapu jalan tersebut. Sisi emosionalnya akan lebih kental sehingga eksplorasi tulisan akan semakin mendalam.
Panduan menulis
Kita bisa memakai unsur jurnalistik yang terkenal dengan formula 5W (where, when, why, who, what) dan 1H (how) sebagai panduan menulis. Kita bisa memulai tulisan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut (Gola Gong, 2007).
Atau kita bisa memakai cara seorang J.K. Rowling (penulis best seller Harry Potter), “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaaanmu sendiri, itulah yang aku lakukan.”
Semua gaya menulis sah-sah saja dipakai. Yang penting adalah kita tidak menjadi peniru atau epigon, apalagi penjiplak alias plagiator. Miliki gaya menulis sendiri dan pede-lah (percaya diri) dengan gaya menulis kita itu.
Mengirim tulisan
Kita harus memperhatikan tata cara pengiriman tulisan. Kita harus taat pada aturan main yang dibuat media massa tersebut. Jangan membuat aturan sendiri. Jika yang diminta tulisan dalam bentuk print out atau tercetak, berarti bentuk itulah yang kita kirimkan. Jika yang diminta dalam bentuk softcopy, kirimkanlah dalam bentuk itu. Peraturan ini biasanya tertera di dekat rubrik surat pembaca atau susunan redaksi.
Tekun dan pantang menyerah
Pada akhirnya, ketekunan dan upaya pantang menyerahlah yang menjadi kunci. Bagi penulis pemula, periode awal mengirim tulisan bisa jadi merupakan masa kritis. Biasanya, penolakan-penolakan akan muncul karena kualitas tulisan belum bisa dinyatakan mumpuni. Dibutuhkan sikap pantang menyerah untuk terus meningkatkan kualitas kita.
***
DAFTAR PUSTAKA
- Gola Gong. 2007. Jangan Mau Gak Nulis Seumur Hidup. Bandung: Maximalis
- Hernowo. 2009. Mengikat Makna Update. Bandung: Kaifa
- Retno, Triani A. 2009. 25 Curhat Penulis Beken. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
- Trim, Bambang. 2006. Menjadi Powerful Da’i dengan Menulis Buku. Bandung: Kolbu
oo gitu ya. makasih infonya!
eh ada rosi.. tugas kuliah nih. rasanya ga pantes nulis tentang ini. tulisan saya belum pernah ada yang naik cetak..haha..
cuma pengen berbagi ilmu dari buku-buku yang udah dibaca tentang menulis. makasih ya udah mampir..
Pokoknya terus mencari ide. Ide itu sebenernya gak akan habis, karena segala sesuatu di sekitar kita itu adalah sumber ide, tinggal kitanya aja yang peka dan sensitif sedikit.
problemnya adalah bagaimana mewujudkan ide (yang abstrak) itu menjadi tulisan (yang nyata).
Cepet pisan bacanya, geus diulas deui..
Geus beres kabeh, did?
urang make gaya jump reading, maca nu kira2 sesuai jeung bahan tulisan urang hungkul..hehehe…
urang rek maca ful nu buku hernowo, ceuk maneh kan eta nu paling oke daripada nu lain. lumayan keur bahan tugas nyieun resensi..heu..
I Like It…. ni jg
bgn dr kunjungan balik
Bandung…. I miss it
makasih udah mampir / nyasar ke blog saya..hehe..