Latar Belakang
Secara sederhana, masalah bisa diartikan sebagai sesuatu yang memiliki dampak. Kehidupan manusia tidaklah mungkin bisa lepas dari masalah. Dimana pun dan kapan pun, masalah akan selalu hadir menghiasi hidup. Bisa dikatakan bahwa hidup adalah serangkaian permasalahan yang menuntut sikap dan solusi dari si empunya kehidupan. Salah satu masalah yang kerap muncul, khususnya bagi mereka yang berusia muda, adalah tidak adanya visi dan misi hidup yang jelas. Tidak adanya tujuan hendak dibawa kemana kehidupan ini.
Hidup ibaratnya sebuah perjalanan. Tentu ia harus memiliki arah dan tujuan. Tidak adanya visi dan misi akan membuat hidup tak terarah. Mungkin sebagian orang berprinsip bahwa hidup ini dibuat mengalir saja. Kita hanya mengikuti kemana aliran itu pergi. Namun, prinsip itu tidak bisa bisa dipakai sepenuhnya. Ada kalanya kita harus bergerak mendahului waktu dan memutuskan hendak menjadi seperti apa diri kita di masa mendatang. Ada kalanya kita harus menjadi ikan salmon yang hidup melawan arus sungai. Bagi ikan salmon, hulu sungai adalah sebuah visi untuk bisa hidup dan berkembang biak. Salmon-salmon yang “hanya mengikuti arus” akan mati.
Masalah ini (baca: tidak adanya visi dan misi hidup) hinggap pada sebagian mahasiswa ITB―sebuah perguruan tinggi yang konon berisikan putra-putri terbaik bangsa. Hendak jadi apa bangsa Indonesia jika putra-putri terbaik mereka justru terjebak masalah fundamental seperti ini?
“Setelah lulus, lalu apa?”
Ini menjadi sebuah pertanyaan besar. Apakah akan langsung bekerja? Ataukah lanjut S2? Atau mungkin menjadi seorang entrepreneur? Semuanya itu kembali pada visi dan misi kita masing-masing. Oleh karena itu, perumusan visi dan misi hidup menjadi sangat penting.
Identifikasi Masalah
Setidaknya ada 2 (dua) hasil identifikasi masalah yang bisa ditemukan di sini, yaitu:
- apa yang membuat orang tidak memiliki visi dan misi hidup?
- bagaimana solusi untuk merumuskan visi dan misi hidup ini?
Gagasan Kreatif
Untuk menjawab identifikasi masalah di atas, ada beberapa gagasan kreatif yang bisa dilakukan, yaitu:
# Mengenali diri sendiri
Tidak adanya visi dan misi bisa berjadi karena kita tidak mengenali diri kita sendiri. Ada 3 (tiga) tingkatan konsepsi diri yang harus kita pahami, yaitu:
- Aku-Diri: aku seperti apa yang aku pahami
- Aku-Sosial: aku seperti apa yang dipahami oleh orang lain yang ada di sekitarku
- Aku-Ideal: aku yang aku inginkan
Akan selalu ada tarik-menarik diantara ke-aku-an kita di atas. Jika mampu memahami ketiganya, kita bisa memosisikan dengan adil sesuai dengan porsi dan prioritasnya masing-masing. Selain itu, kita pun bisa mengenali potensi yang ada pada diri kita. Dengan bekal ini, kita bisa menyusun visi dan misi hidup sesuai ke-aku-an dan potensi diri.
# Miliki standar diri
Selain itu, tidak adanya visi dan misi bisa terjadi karena kita tidak memiliki standar pada diri sendiri. Ketiga konsep ke-aku-an di atas hanyalah variabel. Untuk mengisi variabel tersebut, maka dibutuhkan suatu standar. Standar yang dimaksud di sini adalah nilai (value). Kita harus memiliki nilai yang akan dipegang selama hidup. Nilai yang akan menjadi pedoman dan petunjuk bagi diri kita. Nilai yang akan menjadi standar perumusan visi dan misi kita. Oleh karena itu, tingkatan diri yang paling ideal adalah saat adaptasi antara diri kita dan nilai itu semakin baik. Bagi seorang muslim, nilai yang dipakai tentu saja adalah nilai Islam. Perumusan visi dan misi hidup harus sesuai dengan nilai Islam ini.
# Menjadi seorang pemimpi
Apa yang terjadi dalam hidup kita sekarang ini adalah mimpi kita di masa lalu. Mimpi adalah ruang yang selalu mendahului kenyataan dan tidak ada satu kenyataan pun pada hidup seseorang yang terjadi di luar mimpi-mimpinya. Oleh karena itu, bermimpilah!
# Memiliki perencanaan pengembangan diri
Merencanakan diri layaknya membangun rumah. Setiap yang kita kerjakan adalah batu bata yang dipakai untuk menyusun bangunan rumah kita. Jangan sampai hidup ini menjadi sia-sia karena kita mengerjakan hal yang tidak bermanfaat. Dengan melakukan perencanaan pengembangan diri, kita akan memiliki standar evaluasi perjalanan hidup, selalu fokus dan terarah, serta dapat menerapkan prinsip-prinsip efisiensi, efektifitas dan optimalisasi.
# Membuat bucket list
Bucket list adalah daftar hal yang menjadi keinginan kita. Tuliskan apa saja yang menjadi keinginan kita dalam sebuah kertas. Tulis sebanyak-banyaknya dan sebebas-bebasnya. Setiap kali selesai (mewujudkan) satu keinginan, maka coret ia dari bucket list kita. Dengan adanya bucket list ini, akan ter-frame pada otak dan alam bawah sadar bahwa kita memiliki misi untuk menuntaskan semua isi bucket list yang telah kita buat.
# Memulai dari akhir
Bayangkanlah ketika kita mati nanti. Di acara pemakaman, ada semacam sambutan dari pihak keluarga, teman-teman, dan kolega kita. Mereka akan bertutur tentang kesan yang mereka dapat tentang kita semasa hidup. Apa yang ingin kita dengar dari mereka? Dari situ kita bisa merumuskan apa yang akan menjadi visi dan misi kita.
***
Ini merupakan salah satu tugas kuliah semester ini..he he.. Sebagian isinya saya ambil dari buku Model Manusia Muslim Abad XXI karya Ustadz Anis Matta.