Matinya Partai Komunis Indonesia

In 1965, under the leadership of General Suharto, the military moved against Sukarno, and under emergency powers began a massive purge of communists and their sympathizers. According to estimates, between 500,000 and one million people were slaughtered during the purge, with 750,000 others imprisoned or forced into exile. It was two years after purge began, in 1967, the same year that Suharto assumed the presidency, that my mother and I arrived in Jakarta.

-Barrack Obama-

Saya bukanlah penganut komunisme, apalagi simpatisan atau kader PKI (Partai Komunis Indonesia). Namun ketika membaca kutipan Obama di atas, saya ingin berbicara tentang keduanya―PKI dan komunisme.

Peristiwa itu terjadi pada 30 September 1965. Tepat hari ini, empat puluh lima tahun yang lalu. PKI memberontak dan melaksanakan kudeta. Kita―bangsa Indonesia―mengenalnya sebagai Gerakan 30 September (G30S). Enam jenderal dan satu perwira pertama Angkatan Darat diculik dan dibunuh. Mereka adalah:

  • Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri / Panglima Angkatan Darat / Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi);
  • Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri / Panglima AD bidang Administrasi);
  • Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri / Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan);
  • Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri / Panglima AD bidang Intelijen);
  • Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri / Panglima AD bidang Logistik);
  • Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman / Oditur Jenderal Angkatan Darat); dan
  • Lettu Pierre Andreas Tendean.

Sehari berikutnya, Soeharto (yang saat itu menjabat Panglima Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat) dan timnya berhasil menggagalkan aksi tersebut. Pucuk-pucuk pimpinan PKI dibredel dan “dibereskan” satu per satu. Setiap tahun hari itu diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila (1 Oktober). Aksi Anti-PKI ini tak berhenti dan terus berlanjut hingga ke tingkat bawah (baca: rakyat kecil). Mereka yang―terbukti dan terduga―berafiliasi dengan PKI ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru, sebagian lagi mati dibunuh. Konon pembantaian keji itu terjadi di Pulau Bali. Perkiraan konservatif menyebut angka sekurang-kurangnya 80 ribu orang. Di daerah-daerah lain pun merebak aksi yang sama. Sebuah versi mengatakan bahwa total korbannya mencapai 500 ribu orang, bahkan ada yang menyebut hingga angka jutaan. Mungkin saja terdapat penyimpangan dari data-data itu. Namun satu hal yang jelas, penghakiman tanpa pengadilan telah terjadi di negeri ini.

Selama kepemimpinan Soeharto, media televisi secara rutin menyiarkan film peristiwa pemberontakan PKI setiap tanggal 30 September. Malam ini, jika Orde Baru masih berkuasa, kita mungkin sedang menyaksikan film yang disutradarai oleh Arifin C. Noer itu. Sebuah mekanisme pembentukan opini publik tentang PKI yang “jahat” diberantas oleh Soeharto yang “baik”.

Adalah benar bahwa PKI melakukan kudeta dan aksinya ini menimbulkan korban. Namun, tindakan represif dan teror massa terhadap PKI tidak bisa dibenarkan. Sebagai catatan, dukungan dan keanggotaan rakyat di PKI disebutkan mencapai 3 juta orang pada 1965. Apakah “baik” ketika mereka begitu saja ditangkap, dibuang, bahkan dibunuh? Tanpa pengadilan! Apakah “baik” ketika anak dan keturunan mereka diberi cap dan diperlakukan secara diskriminatif?

Komunisme yang pro-rakyat

Apakah yang membuat PKI memiliki keanggotaan hingga 3 juta orang pada 1965? Apakah yang mendorong rakyat untuk memilih PKI dan menjadikannya finish di urutan ketiga (16% suara) pada pemilu 1955? Seberapa menarikkah PKI?

Gambar: kampanye PKI

PKI, sesuai namanya, menganut ideologi komunisme. Paham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, yakni sebuah manifes politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848. Komunisme pada awal kelahirannya adalah sebuah koreksi terhadap paham kapitalisme di awal abad ke-19. Kondisi saat itu menganggap bahwa kaum buruh dan petani hanyalah bagian dari produksi. Keberadaan mereka dipandang sebelah mata oleh para pemilik modal (kaum kapitalis).

Dalam komunisme, perubahan sosial harus dimulai dari masyarakat kelas bawah―dalam hal ini adalah kaum buruh dan petani. Pengambilalihan alat-alat produksi dilakukan melalui peran Partai Komunis. Komunisme, sebagai anti-kapitalisme, menentang kepemilikan akumulasi modal atas individu. Pada prinsipnya semua direpresentasikan sebagai milik rakyat. Oleh karena itu, seluruh alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat secara merata.

Keberpihakan kepada rakyat dan pemerataan kemakmuran, ternyata itulah daya tarik utama PKI. Rakyat ingin hidup sejahtera. Tengok saja apa yang dikatakan Han―sahabat Soe Hok-gie yang menjadi kader PKI―dalam film GIE, garapan sutradara Riri Riza.

“Menurut gua ini revolusi, Gie.”

“Revolusi? Revolusi apa, Han?”

Hok-gie kemudian memaparkan ketegangan politik yang sedang terjadi dan kemungkinan meletusnya chaos. Ia menyarankan Cin Han untuk meninggalkan partai. Namun, Cin Han menolak.

Elu mestinya inget dan ngerti kenapa gua pengen hidup gua berubah, kenapa gua pengen hidup layak. Gua juga ngerasa kalo gua punya tugas untuk memastikan rakyat yang miskin bisa hidup layak. Ini akan tercapai, Gie! Dan elu, Gie, elu mestinya tahu itu!”

Genjer-genjer dan propaganda PKI

Memang seperti apa kondisi rakyat pada saat itu? Jika Anda menonton film GIE, dalam soundtrack-nya ada sebuah lagu yang berjudul Genjer-genjer. Lagu ini diputar pada saat menampilkan iring-iringan massa PKI.

Lirik lagu
Genjer-genjer (dipopulerkan oleh Lilis Suryani dan Bing Slamet)

Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar
Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar
Dijejer-jejer diuntingi podo didasar
Dijejer-jejer diuntingi podo didasar
Ema’e jebeng podo tuku gowo welasar
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Terjemahan Bahasa Indonesia

Genjer-genjer ada di lahan berhamparan
Genjer-genjer ada di lahan berhamparan
Ibunya anak-anak datang mencabuti genjer
Ibunya anak-anak datang mencabuti genjer
Dapat sebakul dipilih yang muda-muda
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang

Genjer-genjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Genjer-genjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ibu saya beli genjer dimasukkan dalam tas
Genjer-genjer sekarang akan dimasak

Lagu ini diciptakan oleh Muhammad Arief pada tahun 1942, pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Saat itu Jepang mengerahkan para pria untuk mendukung program romusha. Hal ini terjadi juga di desa-desa sehingga membuat rakyat tidak bisa mengolah tanah mereka. Akibatnya, terjadilah kekurangan pangan. Kelaparan menyebar dimana-mana. Untuk mengisi perut, rakyat terpaksa memakan apa saja yang tersedia di lingkungan rumah. Banyak diantaranya yang mengonsumsi genjer, suatu gulma sawah yang tumbuh dengan pesat. Lagu Genjer-genjer memotret situasi pada masa itu.

Gambar: simpatisan PKI

Rupa-rupanya kondisi rakyat yang menderita terjadi pula pada masa pemerintahan Soekarno. Demokrasi Terpimpin (1959-1966) yang diusungnya gagal memuaskan rakyat. Pemerintah fokus pada “proyek mercusuar”-nya saja, sementara rakyat yang ada di dalam justru hidup melarat.

PKI melancarkan kampanye besar-besaran untuk mendongkrak popularitas mereka. Lagu Genjer-genjer―yang notabene menggambarkan penderitaan rakyat―menjadi salah satu lagu propaganda yang disukai dan dinyanyikan pada berbagai kesempatan. Akibatnya, orang mulai mengasosiasikan lagu ini sebagai “Lagu PKI”.

Pada masa Orde Baru, lagu ini haram beredar. Si pencipta lagu, Muhammad Arief, mati dibunuh dalam proses “pembersihan” PKI.

PKI sudah mati

Sekarang PKI sudah mati. Teror massa dan pembentukan opini yang dilakukan selama rezim Orde Baru sepertinya berjalan sukses. Tidak ada lagi orang yang terang-terangan mengusung ideologi komunisme dan membawanya ke ranah politik. Namun, PKI akan tetap hidup dalam sejarah bangsa ini.

Sejarah telah mencatat bahwa Indonesia pernah memiliki PKI sebagai organisasi yang mengusung ideologi komunisme. PKI yang memiliki anggota sebanyak 3 juta orang itu. PKI yang menjadi partai nomor tiga terbesar di negeri ini. PKI yang diperjuangkan orang-orang seperti Han dalam film GIE. PKI dengan Lagu Genjer-genjer-nya yang sederhana. PKI yang melakukan berbagai pemberontakan dan kudeta berdarah G30S. Dan PKI yang “dibersihkan” di Pulau Bali dan daerah-daerah lainnya di Indonesia.

***

Bandung, 30 September 2010

Dida Sadariksa

2 responses on “Matinya Partai Komunis Indonesia

  1. saya pernah nonton film tentang sejarah berkembangnya komunisme. menarik sekali memang bagi kaum buruh saat itu untuk memperjuangkan haknya. tapi kenapa harus kudeta. sejarah kelam..

    btw, nice writing!

    • setuju, itu memang sejarah kelam, atau malah hitam, bagi Indonesia. rasanya blank untuk mengurai sejarah di 1965, sementara saksi-saksi hidupnya sudah pergi satu persatu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s