Rekam Jejak: Jogja, Bromo dan Surabaya (4)

Rekam Jejak Hari Pertama

Catatan 31 Juli 2010 (bagian 2 dari 2)

Kereta ekonomi yang selalu mengalah

Baru lima belas menit berjalan, tiba-tiba kereta kami memperlambat lajunya dan berhenti di Stasiun Rancaekek. Para penumpang naik dan mengisi bangku-bangku yang masih kosong. Seorang bapak dengan anak perempuannya yang masih kecil mengambil tempat duduk di bangku yang berhadapan dengan bangku kami. Saya berusaha membuka pembicaraan. Dari perbincangan singkat, saya tahu bahwa mereka akan pergi ke Madiun untuk menghadiri acara pernikahan kerabatnya. Kereta ekonomi Pasundan memang melayani rute Kiaracondong-Surabaya, sehingga Madiun pun termasuk salah satu kota persinggahannya. Biasanya kereta akan tiba di Stasiun Madiun sekitar pukul 8 malam.

Lima menit kemudian, kereta kembali berjalan. Tidak lama berjalan ia pun berhenti lagi. Kali ini di Stasiun Cicalengka. Masih di kawasan Kabupaten Bandung. Untuk Anda yang baru pertama kali naik kereta ekonomi, hal ini mungkin akan menjengkelkan. Kapan sampainya nih kalau berhenti terus-terusan? Salah satu ciri khas kereta ekonomi yang harus diperhatikan adalah kereta sering berhenti di (hampir) semua stasiun yang dilewatinya. Jika Anda mengejar waktu, saran saya hindarilah naik kereta ekonomi.

Selain itu, karakteristik yang lain adalah kereta ekonomi selalu mengalah kepada “kakak-kakak kelas”-nya, yaitu kereta bisnis dan kereta eksekutif. Sempat di Stasiun Nagreg (Garut), kereta berhenti selama empat puluh menit! Selidik punya selidik, sang kereta sedang menunggu kereta bisnis yang melaju dari arah berlawanan. Di lain stasiun, kereta kembali berhenti lama. Kali ini ia menunggu sebuah kereta eksekutif yang akan melaju lebih dulu menyusul dirinya. Setelah “kakak-kakak kelas”-nya lewat, barulah kereta ekonomi ini akan kembali berjalan.

Saya merenung. Apa mungkin―dari mengalahnya kereta ekonomi ini―rakyat kecil tengah diajari untuk selalu hidup mengalah?

Dalam perjalanan saya sengaja mencatat nama-nama stasiun yang kami singgahi dan waktu kedatangan kereta di stasiun tersebut. Tentu yang saya catat tidak semuanya. Ada beberapa yang terlewat karena nama stasiunnya tidak sempat terlihat atau saya tertidur. Inilah mereka:

  • Rancaekek (6.29)
  • Cicalengka (6.44)
  • Nagreg (7.10)
  • Cibatu (8.22)
  • Cipeundeuy (9.02)
  • Ciawi (9.25)
  • Indihiang (9.45)
  • Tasikmalaya (9.51)
  • Manonjaya (10.06)
  • Ciamis (10.25)
  • Bojong (10.36)
  • Banjar (10.52)
  • Meluwung (11.43)
  • Cipari (11.59)
  • Sidareja (12.03)
  • Gandrungmangun (12.22)
  • Maos (13.16)
  • Kroya (13.43)
  • Gombong (14.11)
  • Karanganyar (14.26)
  • Kebumen (14.57)
  • Kutowinangun (15.11)
  • Prembun (15.22)
  • Kutoarjo (15.40)
  • Wates (16.20)

Waktu menunjukan pukul 16.50 sore ketika kereta kami berhenti di Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta. Terlambat satu setengah jam dari jadwal yang tertera di tiket kereta kami. Sebuah perjalanan yang panjang dan melelahkan. Setelah berhenti sekurang-kurangnya 29 kali dan mengalah 4-5 kali (berdasarkan catatan saya), akhirnya kami sampai juga di Jogjakarta!

Perbedaan mijon dan mison

Ada sebuah anekdot tentang perbatasan wilayah antara Suku Sunda dan Jawa. Untuk mengetahui apakah Anda sudah meninggalkan Jawa barat atau belum, Anda bisa mendengarkan pedagang asongan yang menjual mizone, salah satu merek minuman ringan. Apabila penjualnya berteriak, “Mijon, mijon…”, itu artinya Anda masih berada di daerah Jawa Barat. Sementara, jika penjualnya berteriak, “Mison, mison…”, maka Anda telah memasuki wilayah Jawa Tengah. Semakin ke arah timur, perubahan “j” menjadi “s” ini akan semakin kentara..he he he…

Sudah merupakan rahasia umum, lidah orang Sunda acap kali tidak bisa mengucapkan “z” dengan benar. Ia akan berganti pengucapan menjadi “j”. Untuk pengucapan orang Jawa, saya tidak terlalu mengerti. Mungkin dalam kasus mizone saja pengucapan “z” berganti menjadi “s”.

Jogja, kau masih manis seperti waktu dulu

Ini merupakan pengalaman keempat saya menginjakkan kaki di Jogjakarta. Pertama, ketika SMP dulu. Namun, hanya sekadar singgah. Kedua, ketika study tour SMA. Tiga hari menjadi waktu yang menyenangkan. Menonton sendratari Ramayana di area Prambanan, belajar membatik, menikmati kerajinan perak di Kota Gede, ber-Malioboro, dan yang lainnya (saya lupa apa saja..he he..). Namun, tetap saja terasa kurang. Rasanya tidak bebas untuk menikmati Jogja. Terkekang oleh jadwal yang sudah ditentukan pihak sekolah. Pengalaman ketiga, ketika backpacking di awal tahun ini. Masih teringat jelas. Saya benar-benar merasakan aura Jogja. Masjid UGM, Borobudur, Parangtritis, Prambanan (tidak masuk ke candi, hanya sampai masjid di seberangnya), dan (lagi-lagi) ber-Malioboro.

Dan kini saya kembali datang untukmu, Jogja! Untuk keempat kalinya!!

Saya di Stasiun Lempuyangan (awal 2010)

Setelah melepas penat dengan istirahat sejenak dan makan roti, kami solat jamak qashar zuhur dan ashar di Masjid An Nuur Stasiun Lempuyangan. Sungguh segar ketika air membasuh badan ini.

Terima kasih, ya Allah, telah Kau sampaikan kami di Jogjakarta dengan tidak kekurangan sesuatu apa pun.

Kami beranjak menuju halte Trans Jogja―moda transportasi umum utama di Jogjakarta―yang berada di jalan Yos Sudarso. Tujuan pertama kami adalah Masjid Keraton. Rencananya kami akan “numpang” mandi di sana. Biaya naik Trans Jogja adalah Rp 3 ribu sekali naik. Kami naik jalur 3A yang akan melewati Malioboro. Masjid Keraton bisa dicapai tak jauh dari Malioboro. Sekitar sepuluh menit berjalan kaki.

Trans Jogja memiliki 6 (enam) jalur, yaitu 1A, 1B, 2A, 2B, 3A dan 3B. Anda tidak usah khawatir jika tujuan Anda tidak dicapai oleh Trans Jogja di halte tempat Anda naik. Anda bisa turun di halte lain dan naik Trans Jogja kembali tanpa dipungut biaya sepeser pun―selama Anda tidak keluar dari area halte. Bagi kami―para backpacker―ini merupakan hal yang menyenangkan karena bisa menghemat anggaran.

Sesampainya di masjid, ternyata kamar mandinya penuh oleh antrian. Masjid pun sedang penuh-penuhnya. Ada pengajian menjelang isya. Kami memutuskan mencari tempat lain. Tidak jauh dari situ, kami menemukan pemandian umum dan toilet yang disewakan. Ya sudahlah, kami ambil saja. Rp 2 ribu untuk sekali pakai, baik itu untuk mandi atau sekadar buang air. Saya tersenyum geli ketika ada beberapa anak punk yang terkaget-kaget karena diminta Rp 2 ribu untuk buang air kecil. Terang betul mereka adalah para pendatang. Beberapa ada yang terdengar berbicara bahasa Sunda. Aih, sungguh sempit dunia. Pergi ke Jogja malah bertemu sesama orang Sunda. Daerah Masjid Keraton ini memang tengah ramai oleh anak-anak punk. Ada konser Superman is Dead―salah satu band favorit anak punk―di kawasan Alun-alun, tak jauh dari Masjid Keraton.

Salah satu sudut Masjid Keraton, Jogjakarta

Kami solat jamak qashar magrib dan isya dengan tenang. Badan ini sudah bersih setelah mandi. Segar rasanya. Ba’da solat, kami berbincang dengan Pak Helmi, salah seorang jamaah. Dari beliau, kami mendapat rekomendasi tempat makan yang murah. Alhamdulillah. Beliau bahkan menawarkan kost-nya untuk tempat kami menginap. Namun, kami menolak karena masih ingin menikmati malam di Malioboro.

Kami makan di salah satu angkringan. Harganya lumayan murah. Satu bungkus nasi harganya Rp 2 ribu, gorengan Rp 500, dan teh manis hangat Rp 1500. Saya menghabiskan Rp 6500 untuk makan malam ini. Sebenarnya, kami berniat makan oseng mercon yang tersohor itu. Namun, kami tidak tahu tempatnya. Sementara, perut ini sudah protes minta diisi. Daripada repot mencari-cari, kami memilih yang lebih mudah saja.

Setelah makan, kami ber-Malioboro!! Hunting foto di sana sini. Suasananya ramai. Memang Malioboro ini selalu ramai. Apalagi ini malam minggu. Malam hang out bagi warga Jogja dan para pendatang. Kami mulai hunting di area Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949. Ada serombongan pecinta aksesoris tentara tempo doeloe. Saya ikut antri untuk foto bersama mereka.

Saya dan seorang “tentara” tempoe doeloe

Keramaian yang lain adalah acara Klangenan Jogja 2010. Dari obrolan dengan seorang pengunjung, Klangenan Jogja adalah sebuah acara bulanan―setiap week end di akhir bulan―yang menjadi wahana untuk menyalurkan hobi masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan kesenian, seperti menyanyi dan menari.

Suasana Klangenan Jogja 2010 (1)

Suasana Klangenan Jogja 2010 (2)

Tak terasa waktu berlalu. Sudah pukul 9.30 malam. Kami meninggalkan area monumen dan menyusuri sepanjang jalan Malioboro. Semakin malam suasana semakin ramai saja. Para penarik becak tak henti-hentinya menawarkan jasa. “Murah, Mas. Lima ribu saja untuk keliling Malioboro. Nanti diantar cari penginapan. Ayo, Mas…”

Seiring mereka menawar, seiring pula bibir dan gesture tubuh ini menunjukan penolakan. Kami lebih memilih berjalan kaki. Waktu terus beranjak malam. Sementara, kami belum tahu akan menginap dimana malam ini. Jika merujuk pada rencana yang telah disusun, kami memang belum memutuskan akan menginap dimana untuk malam pertama ini. Ada ide untuk menginap di Masjid UGM, agar tidak perlu mengeluarkan biaya, tapi kami tidak tahu dengan apa kami bisa mencapai ke sana di malam hari seperti ini. Trans Jogja hanya beroperasi hingga pukul 8 malam.

Setelah berdiskusi singkat―menimbang pengeluaran hari ini―kami memutuskan untuk mencari penginapan. Kebetulan tadi pas di area monumen, Ijal bertemu dengan salah seorang temannya. Ia sedang melaksanakan KP (kerja praktek) di sini. Segera saja Ijal menghubungi temannya itu, menanyakan dimana saja tempat menginap murah di daerah Malioboro.

Kami mendapat info bahwa penginapan yang murah ada di daerah Sosrowijayan, sebuah jalan cabang dari Malioboro. Sebelum beranjak ke Sosrowijayan, saya mampir ke Circle K untuk membeli air mineral. Bekal air saya sudah habis. Saya membayar Rp 2500 untuk sebotol air ukuran 1,5 liter. Seorang calo datang menghampiri begitu kami memasuki jalan Sosrowijayan. Ia menawarkan jasa mencari penginapan. Kami menjelaskan karakteristik penginapan yang kami cari: murah dan nyaman. Namun, sayang seluruh penginapan dengan kriteria seperti itu sudah booked alias terisi semua. Yang bersisa tinggal yang mahal-mahal saja. Maklum ini adalah week end. Malioboro sedang kebanjiran wisatawan.

Ijal kembali menghubungi temannya dan menjelaskan situasi yang kami hadapi. Kami disarankan mencari di daerah Sosrowinayan, jalan cabang Malioboro yang lain. Setelah di-pingpong oleh para calo―karena rata-rata penginapan sudah penuh―kami berhasil mendapatkan kamar yang masih kosong. Harga sewanya Rp 40 rb per malam. Karena kami menyewa berdua, masing-masing mengeluarkan uang hanya Rp 20 rb.

Layar handphone saya sudah menunjukan pukul 11 malam ketika kamar kami selesai disiapkan oleh pengurus penginapan. Perjalanan panjang hari ini pun selesai dengan memuaskan. Tidak ada kendala yang berarti. Semua masih berjalan sesuai rencana.

Catatan Pengeluaran

Berikut ini adalah catatan pengeluaran saya di hari pertama backpacking ini.

  • Tiket kereta api ekonomi Bandung-Jogjakarta = Rp 24.000
  • Transjogja Yos Sudarso-Malioboro = Rp 3.000
  • Mandi = Rp 2.000
  • Makan malam = Rp 6.500
  • Air mineral 1,5 L = Rp 2.500
  • Biaya penginapan = Rp 20.000
  • Total = Rp 58.000

5 responses on “Rekam Jejak: Jogja, Bromo dan Surabaya (4)

  1. urang kaingetan keneh nada suara pedangan asongan di kareta :

    makan.. makan.. nasi ayam panas..

    oh iya did, urng teu sedetil maneh menjelaskan Klangenan, Rute Trans Jogja, KA ekonomi. Ya udah lah ya..

  2. Waaa.. penginapannya di mana itu Kang? saya juga rencananya mau ke Jogja nih, dengan biaya seminim mungkin.
    Tolong jika ada informasi yang detail akan sangat menolong kami.
    terima kasih banyak sbelumnya kang…
    selamat buat perjalanannya! ^o^

    • di jalan sosrowijayan.. cabangnya malioboro.. minta aja ke calo penginapan buat dianter. sebutin range harga penginapannya.
      persenan buat calonya nanti dikasih ama yang punya penginapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s