The Lost Symbol

Ini adalah novel kelima Dan Brown setelah Digital Fortress (1998), Angels and Demons (2000), Deception Point

(2001), dan karya fenomenalnya, The Da Vinci Code (2003). Dari empat novel sebelumnya, hanya Deception Point yang belum masuk koleksi pribadi saya. Pas nyari di Gramedia, katanya sedang kosong. Ya sudahlah, akhirnya saya membeli The Lost Symbol saja, yang edisi Bahasa Indonesia tentunya..he he he…

The Lost Symbol bercerita tentang petualangan Robert Langdon, sang profesor simbol kebanggaan Harvard University. Ini merupakan petualangan ketiganya setelah di Vatikan (Angels and Demons) dan Paris (The Da Vinci Code). Kali ini latar belakang cerita mengambil setting ibukota Amerika Serikat, Washington DC, dengan fokus utama membahas freemasonry.

Seperti pada novel-novel sebelumnya (yang sudah saya baca), Dan Brown kembali bermain dengan waktu dalam novel terbarunya ini. Alur berjalan cepat dari satu cerita ke cerita lainnya. Puzzle-puzzle ini kemudian dihubungkan satu persatu dalam petualangan semalam Profesor Langdon.

Disebutkan bahwa salah satu sahabat Langdon, Peter Solomon, merupakan anggota freemasonry derajat tertinggi (derajat ke-33). Atas undangan sahabatnya itu, Langdon terbang dari Harvard ke Washington untuk memberikan ceramah di acara persaudaraan mason. Namun, ternyata acara tersebut tidak pernah ada. Fake invitation. Sebuah undangan palsu dari penculik Peter Solomon untuk memaksa Langdon memecahkan kode-kode menuju rahasia terbesar freemasonry, yang konon terletak di Washington. Langdon harus membantu si penculik demi menyelamatkan nyawa sang sahabat. Maka, petualangan Langdon pun dimulai.

Saya tidak akan bercerita detil tentang isi novelnya. Terlalu panjang untuk diceritakan di sini..he he… Klik saja di sini untuk sinopsis lengkapnya.

Pendapat saya

Hm, pada The Lost Symbol, kejutan-kejutan tidak seheboh The Da Vinci Code. Mungkin karena membahas freemasonry, yang notabene sudah banyak yang mengangkat kontroversinya. Ceritanya juga terasa kurang kuat dan beberapa gampang ditebak. Saya sudah menduga bahwa Mal’akh adalah Zachary Solomon sebelum Brown memaparkan kenyataan itu kepada pembaca.

Selain itu, pembahasan bagian akhir novel tidak menarik bagi saya. Tidak ada lagi konflik. Hanya ada dialog antara Langdon dan Solomon bersaudara. Yah, memang bagian ini perlu untuk menjelaskan detil yang hilang mengenai rahasia terbesar freemasonry. Namun, Dan Brown seolah kehilangan gairah di akhir dan memaparkannya lewat dialog saja. Serasa bukan Dan Brown yang saya kenal.

Lokasi dan lukisan pada The Lost Symbol

Sumber: wikipedia

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s