Antara Introspeksi dan Muhasabah

Dua hari terakhir ini saya diingatkan untuk berintrospeksi atas semua tindakan dan ucapan saya. Sebuah “tamparan” yang keras bagi saya ketika dibilang, “Bicara memang gampang. Yang pasti sebelum menasihati orang, nasihati dulu diri sendiri.”

Kata-kata yang provokatif. Emosional.

Saya tidak tertarik untuk ikut dalam pengaruh emosi yang tak akan pernah berujung ini. Saya pikir diam merupakan pilihan yang tepat.

By the way, apa itu introspeksi?

Introspeksi adalah proses pengamatan terhadap diri sendiri dan pengungkapan pemikiran dalam yang disadari, keinginan, dan sensasi. Proses tersebut berupa proses mental yang disadari dan biasanya dengan maksud tertentu dengan berlandaskan pada pikiran dan perasaannya. Bisa juga disebut sebagai kontemplasi pribadi, dan berlawanan dengan ekstropeksi yang berupa observasi terhadap objek-objek di luar diri. Introspeksi mempunyai arti yang sama dengan refleksi diri.

-wikipedia-

Dalam Islam, introspeksi dikenal dengan nama muhasabah, yaitu menghisab diri sendiri.

Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt.” (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)

Saya berterima kasih atas “tamparan” itu. Jika tidak, mungkin saya akan lupa diri.

Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

-Q.S. Al Ashr-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s