Sebagai konsekuensi mendapat helm putih, maka saya dan yang lainnya mendapatkan fasilitas full dari perusahaan. Mendapat mess, laundry, makan, dan uang saku (untuk pulang). Berbeda dengan kerja praktek (berhelm biru) dulu ketika saya harus tinggal kos di rumah penduduk, mencuci dan mencari makan sendiri. Mess tempat saya tinggal terletak di daerah yang bernama Samburakat. Oleh karena itu, nama mess-nya pun disebut Mess Samburakat. Sebenarnya ada 2 daerah yang dijadikan tempat mess karyawan. Selain di Samburakat, ada juga mess karyawan di komplek perumahan Berau Indah (BI).
Perbedaan Mess Samburakat dan Mess BI:
- Mess Samburakat diplot untuk tempat tinggal karyawan baru, sementara Mess BI untuk yang sudah lama bekerja di PT Berau Coal.
- Akses ke kota dari Mess Samburakat ditempuh 20 menit (dengan memakai motor), sementara Mess BI hanya 5 menit saja.
Mess Samburakat dibangun dengan konsep villa. Di sana ada kurang lebih ada 15 bangunan yang dijadikan tempat tinggal. Setiap bangunannya diberi nama yang berbeda-beda. Saya dan teman-teman tinggal di mess A-1.

Mess hantu
Pada zaman dahulu kala (halahh bahasanya kayak mau cerita dongeng aja..he he..), perusahaan mendatangkan beberapa orang trainer dari Jakarta. Para trainer ini ditempatkan di mess A-1.
Peristiwa-peristiwa aneh kemudian terjadi. Mereka mendengar suara-suara janggal dari kamarnya. Suara seperti ketukan di luar. Ketika dicek tak ada siapa-siapa di sana.
Puncaknya, pada suatu malam terjadi kehebohan. Seorang trainer “dipindahkan” saat tidur ke tangga di luar.
Siapa yang memindahkan? Siapa yang membuat suara-suara aneh itu?
Orang pintar di sana bilang bahwa mess itu ada “penunggu”-nya. Selain Pak Firman (supervisor katering di mess), sejak saat itu tidak pernah ada orang yang tahan tinggal di sana lebih dari 2 minggu. Pak Firman sudah beberapa bulan ini tinggal di A-1.
Cerita di atas saya dengar dari orang-orang di mess. Oh my God, tinggal di mess hantu!!



Mess A-1 adalah mess terbesar dibanding mess-mess yang lain. Sebenarnya suasananya cukup nyaman dengan pelbagai fasilitas yang ada di dalamnya. Namun, cerita mess hantu itu agak mengusik pikiran saya.
Sehari, dua hari, dua minggu pun berlalu. Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada yang “dipindahkan”. Kami masih baik-baik saja..he he..
Tinggal sendiri
15 Juni 2010. Teman-teman yang lain pulang ke Bandung. Saya tetap tinggal karena satu dan lain hal.
Penghuni mess pun tinggal saya dan Pak Firman. Setiap jam 8 malam Pak Firman pergi kerja dan baru pulang sekitar jam 10 malam. Maka, dalam waktu dua jam itu saya benar-benar sendiri (dengan ditemani siaran PD 2010 tentunya..he he…).
Kadang pikiran itu kembali datang. Bahwa saya tinggal di mess hantu yang paling ditakuti karyawan perusahaan. Walhasil, suasana mencekam pun tercipta.
But, so far so good. Saya sukses menjalani 1 minggu berikutnya dengan aman. Tidak terjadi hal-hal yang aneh.
Pengalaman tinggal di mess hantu (baca: mess A-1) selama 3 minggu mengantarkan saya kepada sebuah kesimpulan: semuanya berawal dan berakhir di pikiran kita.

Pingback: Cerita Berau: Pulang | .: Blog Dida Sadariksa :.·
Pingback: Cerita Berau: Derawan, I’m in Love « Blog Dida Sadariksa·
Wuiii knpa gak di lanjutin? padahal aku suku lho ma yg berbau misteri
Ini bukan blog misteri kok.. cuma pas tahun lalu pernah dapat pengalaman tinggal di mess (yang katanya) berhantu..hehe..
Anyway.. makasih ya udah mampir (nyasar)..
Gak jelas cerita x thu.
Cerita pengalaman waktu masih mahasiswa. Maaf kalo ga jelas ceritanya..hehe..
Salam,
DS