The Bucket List

Semalam saya kembali menonton film The Bucket List yang dibintangi oleh Jack Nicholson dan Morgan Freeman. Banyak pelajaran tentang hidup yang diajarkan pada film produksi Hollywood keluaran tahun 2007 ini.

The Bucket List berkisah tentang Edward Cole (Jack Nicholson) dan Carter Chambers (Morgan Freeman), dua orang yang sama-sama menderita penyakit kanker stadium lanjut. Keduanya divonis dokter hanya akan mampu bertahan hidup selama enam bulan ke depan, atau setahun jika beruntung. Apa yang akan Anda lakukan jika berada dalam posisi mereka? Mungkin sebagian besar dari kita akan menangis dan meratap, “Mengapa ini terjadi kepada saya?”

Lain halnya dengan Edward dan Carter. Mereka mengisi sisa waktu mereka dengan melaksanakan hal-hal yang selama ini menjadi impian mereka. Mereka menuliskan mimpi-mimpi itu dalam sebuah kertas. Daftar mimpi itulah yang disebut bucket list.

Pelajaran pertama dari film ini: jangan pernah menyerah pada keadaan. Teruslah berjuang.

Pelajaran yang kedua: buatlah bucket list Anda sekarang juga! Ya, sekarang juga!

Dan wujudkanlah daftar mimpi Anda tersebut. Coret satu persatu mimpi yang telah terwujud. Maka, ketika semua mimpi itu menjadi nyata, Anda akan mendapati seseorang yang terus berjuang dan pantang menyerah dalam hidup ini. Ya benar, orang itu adalah diri Anda sendiri!

Edward dan Carter memulai misi ‘menuntaskan’ bucket list dengan skydiving, memacu sport car di lintasan balap, melanglangbuana di hutan Afrika, makan malam di tempat paling romantis sedunia, mengunjungi piramida di Mesir, berziarah ke Taj Mahal, dan yang lainnya. Semua itu mereka wujudkan di sisa kehidupan yang mereka miliki.

Pelajaran ketiga: hidup tidaklah sekadar menunggu mati. Jadi, nikmatilah hidup ini!

Catatan hikmah

Kehidupan memang suatu misteri yang sulit untuk ditebak. Kita tak tahu bagaimana ia akan berjalan dan berakhir. Dalam kemisteriusannya itulah terdapat pelajaran dan ujian untuk mengetahui siapa orang yang baik dan orang yang buruk amalnya.

Jika Anda ditanya apakah Anda ingin tahu kapan hidup Anda akan berakhir, apa yang akan Anda jawab? Apakah Anda termasuk ke dalam 96% yang menjawab “tidak”? Ataukah Anda akan bersandar kepada 4% sisanya?

Hidup itu haruslah memiliki tujuan. Jangan sampai ketika ditanya tujuan hidup, Anda malah merasa bingung sendiri. Buatlah daftar tujuan (goals) yang ingin Anda capai dalam hidup.

Hidup hanya sekali. Maka, jadikanlah hidup Anda di dunia sebagai kebaikan yang bisa membawa kebahagiaan bagi orang-orang yang ada di sekitar Anda.

Saya tertarik mengutip salah satu obrolan di film The Bucket List. Suatu saat nanti ketika seorang Mesir mati, dia akan ditanyai dua pertanyaan yang akan menentukan dia diterima di surga atau tidak. Kedua pertanyaan itu adalah:

Pertama, apakah Anda merasa bahagia di dalam hidup?

Kedua, apakah hidup Anda membawa membawa kebahagiaan bagi orang yang ada di sekitar Anda?

Terlepas dari agama yang kita anut, kita bisa mencoba untuk menjawab dua pertanyaan di atas. Apa jawaban Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s