
Luar Biasa. Saya pikir itu kata yang paling pas untuk mengungkapkan perasaan selama menjadi BPH Gamais ITB. Sesuatu hal yang belum pernah terlintas di benak saya sebelumnya. Siapakah saya sampai berani bermimpi seperti itu? Saya bukanlah jajaran kader terbaik di Gamais. Acara-acara Gamais pun saya jarang hadir. Orang-orangnya pun saya tak tahu. Paling yang saya kenal adalah teman SMA atau satu fakultas di TPB dulu. Ketika tawaran itu datang, jujur saya bingung. Entah harus menjawab apa.
Kepada Allah saya mengadu. Berkeluh kesah tentang kebingungan ini. Jawaban itu akhirnya datang berupa kemantapan hati. Berbekal dorongan squad ikhwan FSLDK 2006 yang lain, saya berucap mantap, “Ya!”
Maka jadilah saya mengemban amanah sebagai Kepala Departemen FSLDK Gamais ITB 2009. Amanah yang sungguh tak mudah.
Semangat baru dengan kombinasi wajah-wajah lama dan baru. Ada 10 (sepuluh) orang saat kami memulai. Saya, Zulfan, Rio, Wahyu, Irfan, Rezha, Frida, Riska, Okta, dan Karin. Dan kini berakhir dengan 10 orang pula, walaupun ada pergantian orang. Zulfan dan Riska mendapat amanah di luar Gamais yang harus lebih diprioritaskan. Alhamdulillah mereka tergantikan dengan masuknya Rayhan dan Isna.
Perjalanan kepengurusan dimulai dengan menyusun mimpi-mimpi. Mimpi kami tertuang dalam proker-proker satu kepengurusan ke depan. Saya teringat rapat-rapat panjang di kortim Salman untuk membahas itu semua. Terima kasih, Squad. Tanpa kalian takkan pernah ada FSLDK Gamais ITB 2009.
Ketika tamu berdatangan
Periode semester pertama kepengurusan ini, Gamais ITB menerima banyak tamu. Mulai dari ikhwah JS UGM, HALUAN Malaysia, siswa-siswi SMA Jakarta, FOSI Unila, HAMASAH Poltekkes Depkes Bandung, ULUL ALBAB Unwir Indramayu, KARISMA Universitas Al Azhar Jakarta, hingga GAMUS IM Telkom. Semua itu menggoda datangnya pertanyaan, “Kapan nih giliran kita yang bertamu?”
Maaf beribu maaf hal itu tidak bisa terwujud. Pada proker, slot bertamu dialokasikan di awal semester ganjil, tapi ternyata tidak bisa. Hingga sekarang sudah akhir kepengurusan pun masih tidak bisa. Hambatan yang paling utama adalah sulitnya mencari waktu yang tepat. Dinamisnya kehidupan orang-orang di Gamais Pusat ini semakin membuat susah saja. Saran untuk pengurus berikutnya, lakukan saja kunjungan walaupun tidak bisa full team.
Kunjungan kesini kunjungan kesana
Memang inilah yang menjadi ciri khas Departemen FSLDK. Ketika ditanyakan tentang alasan masuk FSLDK kepada staf dan maganger, rata-rata selalu ada jawaban, “Pengen jalan-jalan, Kak.”
Walaupun mobilitas saya tidak sedahsyat Panji, Adi, Ryan, Ardhesa, dan Rofi yang berkeliling Indonesia untuk mengisi training PMLDK, saya punya beberapa kisah kunjungan yang berkesan. Pada awal kepengurusan, saya berangkat ke Surabaya. Jujur, saat itu adalah pengalaman pertama saya menginjakan kaki di Kota Pahlawan. Saya bisa bertemu dengan orang-orang hebat di sana. Kawan-kawan Puskomnas UNAIR yang ramah, Salam UI dengan paradigma politik mereka yang kental, JS UGM yang berwibawa, UNS Solo yang lembut, dan yang lainnya.
Kunjungan yang lain adalah saat silaturahim ke LDK-LDK dampingan. Miris rasanya ketika melihat seorang Abyanuddin sendirian memperjuangkan dakwah kampus di Polman. Semua itu menyadarkan saya bahwa kita, Gamais, belumlah menjadi apa-apa jika masih ada LDK yang tertatih-tatih di sekelilingnya. Namun, dalam rasa miris itu saya bisa bersyukur ketika melihat dakwah kampus kian menggeliat di STKS. Berbasiskan pembinaan kader yang kuat, mereka melaksanakan syiar Islam di kampus. Jumlah pengurusnya hampir mendekati Gamais Pusat. Dengan objek yang jauh lebih sedikit, mereka bisa leluasa bereksperimen dan berinovasi dalam dakwah.
Mimpi-mimpi yang belum terwujud
Hal yang paling perlu disorot adalah pendampingan LDK yang masih kurang. Janganlah kita terlalu muluk bergerilya di luar, sementara LDK sekitar terbengkalai. Sepanjang kepengurusan ini saya belajar bahwa inti utama dari Departemen FSLDK ada pada pendampingannya. Jika 1 (satu) LDK mandiri mampu merangkul dan memajukan 6 LDK dampingannya, generasi emas dakwah kampus di Indonesia niscaya akan tercipta. Disitulah saya menemukan arti dari Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus. Setelah pendampingan, mimpi yang lain adalah jaulah. Jangan hanya jago menerima tamu, kita juga harus kudu wajib musti bertamu..he he he.. Selain itu, ada juga mimpi ekspansi jaringan. Misalnya, dengan membantu legalitas LDK di kampus lain. Sungguh suatu kebahagiaan jika itu semua bisa terwujud. Insya Allah di tangan kepengurusan berikutnya. Bisa!!
Maaf dan terima kasih
Saya menyadari terdapat banyak kekurangan selama saya berada di FSLDK ini, mulai dari menjadi staf hingga kini sebagai kepala departemen. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya memohon maaf atas segala khilaf, kesalahan, dan kelalaian. Sekaligus mengucapkan terima kasih atas begitu banyak pembelajaran saya peroleh.
***
Bandung, 23 Desember 2009
Dida Sadariksa