Saya tertegun melihat status updated teman-teman di jejaring sosial facebook hari ini. Sebagian mengisi statusnya dengan kata-kata nasionalis. Ada apakah gerangan? Usut punya usut ternyata hari ini adalah Hari Pahlawan.
Pada 10 November 1945, para pejuang di Surabaya mempertahankan kemerdekaan dari serangan sekutu. Perang ini menimbulkan banyak korban. Bagi kita, bangsa Indonesia, mereka adalah pahlawan. Entah apa jadinya bila mereka menyerah kepada sekutu dan memberikan kemerdekaannya kembali.
Kembali ke status di jejaring sosial facebook, salah satunya ada yang berbunyi, “Salamku untukmu para pahlawan. Semoga karakter kepahlawanan senantiasa melekat di diri kita.”
Yang lain menulis, “Siapa pahlawan-pahlawan Indonesia berikutnya?”
Ada satu status yang cukup menarik bagi saya, “Kita bisa semua bisa jadi pahlawan. Pahlawan yang bisa memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Minimal pahlawan untuk lingkungan sekitar kita. Buatlah mereka merasakan manfaat dari keberadaan kita. Jangan sampai menjadi beban di lingkungan kita.”
Memang begitulah adanya. Arti pahlawan bagi Indonesia sekarang ini bukanlah yang mengangkat senjata lagi, pahlawan adalah orang yang berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya. Dia merasa tak nyaman jika melihat ada ketidakadilan, kemudian dia BERTINDAK! Memang banyak orang yang peduli dengan ketidakadilan, namun hanya sedikit yang bergerak melawan ketidakadilan itu.
Indonesia butuh pahlawannya hari ini. Ketidakadilan berupa kesenjangan sosial semakin tinggi dan cenderung tidak bisa dikendalikan. Orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin terpedaya. Menjadi pahlawan tidaklah harus menunggu hingga menduduki suatu jabatan penting atau memiliki kekayaan melimpah. Menjadi pahlawan adalah dengan melihat keadaan sekitar, melihat dan mengukur kapabilitas diri kita, lalu bertindaklah sesuai kapabilitas tersebut. Tidak harus menunggu lama. Sekarang!
Jangan menghitung besar atau kecil kontribusi kita. Jangan pernah menilainya. Biarlah sejarah yang mencatat bahwa kita menghabiskan hidup kita dengan terus memberi dan berkontribusi, bukan sebagai pecundang yang lari dan berpuas diri sendirian.
Selamat Hari Pahlawan.
***
Bandung, 10 November 2009
Dida Sadariksa