Unknown Territory

Kali ini saya hendak menuliskan apa yang disampaikan oleh khatib shalat jumat yang lalu di Masjid Salman ITB. Saya pikir apa yang disampaikan oleh Pak Hermawan K. Dipojono, salah seorang dosen Teknik Fisika ITB, sangat menarik untuk dijadikan renungan bagi kita semua.

***

Beberapa waktu yang lalu terjadi peristiwa yang memilukan di negeri ini. Gempa bumi mengguncang beberapa tempat di Indonesia dan merenggut banyak korban jiwa. Bagi yang mengalami gempa tersebut, tentunya akan merasa amat dekat dengan kematian. Seakan kematian itu datang dan membukakan pintunya di hadapan kita. Naluri alam bawah sadar manusia membuat kita refleks berusaha menyelamatkan diri. Ada yang berhambur keluar ruangan. Ada yang berlindung di bawah meja. Semuanya lupa dengan aktivitasnya. Mahasiswa yang sedang belajar langsung lupa kepada dosennya, dan berhambur ke luar kelas. Begitu pun dosennya ikut keluar juga. Semua itu mengajarkan pada kita bahwa sesungguhnya di alam bawah sadar manusia itu terdapat ketakutan terhadap apa yang dinamakan dengan kematian, dan cenderung ingin menghindarinya.

Mengapa bisa seperti itu? Mengapa kita, manusia, takut dengan kematian?

Pada dasarnya, manusia merasa takut dan khawatir saat hendak memasuki daerah yang tidak diketahui (unknown territory). Dan kematian layaknya pintu yang di baliknya terdapat unknown territory tersebut.

Kita tak pernah tahu apa yang ada dibalik pintu kematian karena mereka yang sudah melewatinya tak ada yang pernah kembali ke dunia (kehidupan) kemudian menceritakannya kepada kita. Tak ada sms, email, telepon, fax, ataupun media komunikasi lainnya yang kita peroleh dari alam sana. Oleh karena itu, ketika kita merasa pintu kematian itu dibuka untuk kita, refleks yang kita lakukan adalah menjauhi atau menghindari unknown territory tersebut.

Kita tak akan pernah tahu apa yang ada di balik pintu kematian, kecuali kita diberi tahu. Terserah kepada kita untuk memilih percaya atau mengingkarinya. Itu semua adalah pilihan.

Apakah kita memilih untuk percaya bahwa setelah kematian itu kita akan dibangkitkan kembali untuk dimintakan pertanggungan jawab? Apakah kita memilih untuk percaya bahwa ada Kekuatan Maha Besar yang mampu membangkitkan debu dan tulang belulang kita menjadi ke bentuknya semula untuk diminta pertanggungjawaban?

Suatu saat kita akan dibangkitkan seolah-olah terbangun dari tidur. Sebagian dari kita akan berkata, “Aduhai celakalah aku! Siapa yang membangunkanku dari tidurku?”

Ketika semuanya telah nampak begitu jelas, mereka akan berkata, “Ya Tuhan, kembalikanlah aku ke dunia, niscaya aku akan berbuat kebaikan…”

Na’uzubillahi mindzaalik

Dahulu ketika masih duduk di bangku SD kita diajarkan bahwa ada dua malaikat, Raqib dan Atid, yang mencatat semua yang kita lakukan. Sekarang kita harus mengubah pemikiran seperti itu. Kita bayangkan Raqib dan Atid tidak lagi mencatat, tetapi merekam semua yang kita lakukan dengan video yang canggih. 24 hours a day, 7 days a week. Very detail. Ini akan menjadi bukti bagi persidangan kita kelak. Dan tak ada satu peristiwa pun yang terlewat pertanggungjawabannya di persidangan itu.

Semua itu untuk menjawab: Apakah kebaikan yang banyak kita lakukan? Ataukah keburukan? Wallahu’alam.

2 responses on “Unknown Territory

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s