Tepat hari ini, 28 Oktober, 81 tahun yang lalu, para pemuda Indonesia berkumpul pada Kongres Pemuda II yang menghasilkan keputusan sebagai berikut (lihat gambar).

Bersatunya para pemuda Indonesia menjadi tonggak sejarah perjuangaan bangsa untuk memperoleh kemerdekaannya. Tokoh-tokoh pemuda hadir berkumpul dan berdiskusi mengenai problematika bangsa yang kala itu masih di bawah pendudukan Belanda. Nama-nama seperti Sigit, Soegondo Djojopoespito, Suwirjo, S. Reksodipoetro, Muhammad Yamin, A. K Gani, Tamzil, Soenarko, Soemanang, dan Amir Sjarifudin, tentu sudah tidak asing lagi, terutama bagi para pemerhati sejarah.
Dimanakah pemuda Indonesia hari ini?
Momentum sumpah pemuda selayaknya menjadi pemicu semangat para pemuda Indonesia untuk kembali kepada peranannya sebagai agent of change (agen perubahan). Pemuda harus bisa membawa dampak positif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Mungkin terdengar utopis jika melihat karakter para pemuda sekarang ini. Atau mungkin pemikiran ini terlalu idealis? Pola hidup konsumtif dan derasnya desakan pengaruh budaya asing yang masuk telah menghilangkan karakter asli pemuda yang kritis. Pemuda yang ada kini lebih memilih berlindung di balik kenyamanan semu. Tanpa menyadari bahwa tantangan yang ada di depan kian besar menghadang. Jangan sampai kesadaran kita terlambat. Akan sulit untuk berbalik dan memulai lagi. Yang tersisa hanya penyesalan berbalut diri yang lumpuh tak berdaya dilindas zaman atas nama globalisasi.
Globalisasi. Nama yang sekilas “keren” untuk diucapkan, namun di baliknya terdapat bahaya besar yang mengancam. Sebagai contoh, pengaruh globalisasi dalam perekonomian. Atas nama globalisasi, negara asing akan dengan bebas memasarkan produk mereka di tanah air. Kekhawatirannya adalah produk pasar domestik akan kalah bersaing sehingga akan mematikan perekonomian sektor riil masyarakat Indonesia.
Bangunlah pemuda Indonesia!!

Mungkin foto di atas bisa mengilhami kita untuk kembali merapatkan barisan dan menyelaraskan langkah. Jangan ada lagi statement saling menyalahkan sesama anak bangsa yang berpotensi menyulut perpecahan. Kita adalah pemuda yang satu, Pemuda Indonesia.
Selamat Hari Sumpah Pemuda.
***
Bandung, 28 Oktober 2009
Dida Sadariksa