Sang Penanda

Waktu melaju dengan memasang wajah tak peduli. Lembar 2011 yang usang, kini sudah bersalin rupa menjadi 2012. Tak ada yang tersisa dari hingar bingar pergantian tahun. Tak ada lagi bunyi terompet. Tak ada lagi nyala kembang api. Semarak itu sudah berlalu dan menjadi cerita basi.

Saya bukan tipe orang yang merayakan tahun baru. Namun, saya selalu menyambut dan menikmatinya sebagai sebuah momentum. Saat untuk kumpul bersama keluarga, dan menikmati liburan. Saat untuk menuliskan mimpi-mimpi setahun ke depan. Sebuah momentum, tak lebih.

Angka 2011 dan 2012 hanyalah penanda. Begitu pula bilangan jam, tanggal, hingga nama-nama hari dan bulan. Penanda yang dibuat untuk mengobati sifat pelupa manusia. Dan menjadi bukti sahih bahwa manusia memang selalu ingin mengambil kendali atas diri mereka sendiri. Tak mau tergerus oleh laju sang waktu yang tak pernah mau peduli.


Ihwal Suka (Nonton) Sepak Bola

Dulu saat masih bocah 5-6 tahun, saya mulai sering memperhatikan keadaan sekitar dan mengingat beberapa diantaranya sampai sekarang. Jangan tanya memori di usia sebelum itu. Rasanya tak ada yang masih berbekas di kepala saya.

Salah satu yang saya ingat saat itu adalah ayah saya yang sering mengganti channel tv ke siaran sepak bola. Malam-malam biasanya. Sekitar pukul delapan dan sembilan. Menjelang waktunya saya tidur. Itulah awal mula perkenalan saya dengan sepak bola. Liga Serie A-nya negeri pizza menjadi kegemaran ayah saya saat itu. Saya sendiri tidak belum suka. Apa menariknya sepak bola dalam layar 14 inch dibanding bermain di luar dan menemukan hal-hal baru dengan berpetualang?

Continue reading


Pulsa Dulu Pulsa Sekarang

Sms ga pernah, nelpon ga pernah…

Aku ga punya pulsaaa!

Tahu kata-kata di atas kan? Adegan lebay yang bikin Sule nangis(-nangisan) bombay..he he…

Nampaknya sekarang pulsa sudah merangsek naik status jadi kebutuhan primer. Siapa sih yang tidak butuh komunikasi?

Pulsa dulu, pulsa sekarang. Perlu anggaran tersendiri untuk memenuhi kebutuhan yang satu ini. Saat masih mahasiswa, biaya untuk pulsa maksimalnya paling hanya 50rb/bln. Sekarang? Bulan lalu pulsa saya habis >100rb. Itu pun hanya untuk sms dan telpon saja. Belum ditambah pulsa internet (modem). Jika memakai smartphone, tentu harus ada biaya tambahan lagi untuk beli paketnya. Semakin besar saja kocek yang harus dikeluarkan.

Sebesar apapun itu, biaya untuk pulsa adalah pengeluaran yang tidak bisa dihindari. Namun, sekurang-kurangnya bisa diminimalkan. Kita harus jeli melihat paket promo dari provider seluler yang kita pakai. Semoga rezeki kita cukup untuk memenuhinya. Jangan sampai kita harus membuat excuse seperti iklan di atas. Aku ga punya pulsaaa! He he…


Galeri Foto: Tokowuta


Galeri Foto: Mining Equipment


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.