Tiga Belas Januari Dua Ribu Sepuluh

Tak sabar menunggu malam. Waktu keberangkatan kami ke Yogyakarta.

Namun, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Kenyataan berkata lain.

Kereta yang rencananya akan kami tumpangi telah penuh terisi. Penuh sesak. Tak ada tempat duduk. Harus berdiri hingga entah sampai mana.

Jadilah kami menunda waktu keberangkatan.

Hingga besok.

Pagi. Jam 6.

Dua Belas Januari Dua Ribu Sepuluh

Bertemu dengan Budi di kampus. Membicarakan tentang rencana ke Jogja. Tentang bagaimana berangkat, rute selama di sana, dan yang lainnya.

Kami akan berangkat rabu malam memakai kereta ekonomi.

Rute kami adalah ke atas dulu (lihat peta) ke Borobudur hingga ke bawah di Parangtritis… ^^

Selepas dari kampus ada kejadian menarik.

Seorang preman yang mengaku pernah dipenjara melakukan orasi dengan gaya khasnya (baca: memaki dengan kata-kata kasar) tentang fasilitas mewah yang diperoleh Artalyta Suryani alias Ayin di sel penjara. Sang Preman berkoar-koar betapa ketidakadilan tengah terjadi di negeri ini. Dia menerawang tentang masa lalunya di penjara yang kumuh dan menjijikan, sungguh berbeda dengan Ayin.

Saya tertegun.

Ketidakadilan memang tengah terjadi di negeri ini.

Bucket List

Semalam nonton lagi film Bucket List yang dibintangi oleh Jack Nicholson dan Morgan Freeman. Film produksi tahun 2007 ini adalah salah satu film favorit saya. Ada banyak pelajaran tentang hidup yang diberikan di film ini.

Bucket List berkisah tentang Edward Cole (Jack Nicholson) dan Carter Chambers (Morgan Freeman), dua orang yang sama-sama menderita penyakit kanker stadium lanjut. Keduanya divonis dokter hanya akan mampu bertahan selama enam bulan atau setahun jika beruntung. Jika Anda berada dalam posisi mereka apa yang akan Anda lakukan?

Mungkin sebagian besar dari kita akan menangisi keadaan dan meratapinya. “Mengapa ini terjadi kepada saya?”

Lain halnya dengan Edward dan Carter. Mereka mengisi sisa waktu mereka dengan melaksanakan sebuah daftar hal-hal yang ingin mereka lakukan dalam sisa hidup mereka. Daftar itulah yang disebut “Bucket List”.

Read more »

Sebelas Januari Dua Ribu Sepuluh

Sebelas Januari ya lagunya Gigi… ^^

Pergi ngampus (lagi). Mau ketemu Budi, ngobrol tentang planning backpacker-an di Jogja… :-)

Tapi, orang yang ditunggu tak kunjung datang. Baru datang siangnya. Padahal saya sudah stand by di kampus sejak jam 9 pagi.

Akhirnya, pulanglah saya ke rumah.

Rencana Ke Jogja

Liburan semester ini rencananya saya, Budi, dan Ari, akan pergi backpaker-an ke Jogjakarta. Yah, lumayan sekalian refreshing setelah berkutat dengan kegiatan kampus dan Gamais selama semester kemarin.

Kami akan berangkat hari Rabu, 13 Januari 2010. Berangkat dari stasiun Kiaracondong, memakai kereta eknonomi malam. Yang masih agak bingung adalah rute perjalanan kami di Jogja nanti. Kami harus menyusun jadwal agar bisa mengefektifkan waktu selama seminggu ke depan ini.

Untuk itulah saya mengajak Budi untuk diskusi. Namun, ternyata belum bisa hari ini. Mungkin besok. Semoga.

Sepuluh Januari Dua Ribu Sepuluh

Pergi ke kampus. Hari Minggu?! Sudah biasa.

Online sebentar untuk upload foto-foto Syukuran dan Pembubaran Kelompok 7 Mine Plan featuring Theo.

Lalu pergi jalan-jalan refreshing… ^^

Sembilan Januari Dua Ribu Sepuluh

Setelah melalui pekan-pekan yang melelahkan dan malam-malam yang panjang, akhirnya kelompok 7 mine plan resmi dibubarkan. Bertempat di kosan Nataneil, diadakanlah acara Syukuran dan Pembubaran Kelompok 7 Mine Plan 2009-2010 featuring Theo.

Masak-masak ^^

Makan-makan ^^

Menunya adalah nasi kuning, nasi putih, ayam goreng, telor dadar, oreg tempe, abon, kerupuk, sambal, jus jeruk (rasa soda karena dicapur sprite), semangka, rambutan kusuka, malkist, happy tos, hmm… apa lagi ya?? :p

Terima kasih untuk Andhika Budi Hermawan, Ari Restu Wibowo, Rinaldo Theodorus Kurniawan, Budi Yulianto, Nataneil Adhynagara Horansil, dan Andik Mirta Yusianto, atas kerja samanya selama ini. Mohon maaf atas segala kekurangan saya selama kerja kelompok ini.

Delapan Januari Dua Ribu Sepuluh

Hal yang menarik hari ini adalah saat melewati komplek Salman. Ada yang berbeda dengan Taman Ganesha, sebuah taman yang terletak tepat di samping masjid Salman ITB.

Ini dari view yang lain.

Ini yang lain juga.

Dan ini.

Rupa-rupanya hujan yang hampir setiap hari mengguyur Bandung membuat tanah tak kuasa lagi menyerapnya. Mungkin namanya harus diubah jadi Taman Kolam Ganesha..haha.. ^^